Bibit Ayam di Sumenep Mahal, Tapi Ayam Murah Dijual

Rahmatullah    •    Rabu, 26 Sep 2018 19:18 WIB
harga ayam
Bibit Ayam di Sumenep Mahal, Tapi Ayam Murah Dijual
Peternak saat memberikan minum ayam pedaging. Medcom.id / Rahmatullah

Sumenep: Peternak ayam pedaging di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, rata-rata rugi besar. Seperti yang dialami Abu Yazid, 43, peternak di Desa Gadu Barat, Kecamatan Ganding, yang mengaku rugi belasan juta.

Yazid mengaku rugi lebih dari Rp14 juta pada musim panen kali ini. Tapi, di tetap bertahan sebagai peternak ayam, karena itu satu-satunya sumber penghasilan.

Kerugian terjadi karena bibit mahal, tapi harga ayam sangat murah saat dijual. Tiap 100 bibit ayam butuh biaya Rp900 ribu. Sementara tiap kali dia beternak butuh 2.000 ekor bibit ayam. Tapi ketika panen, harganya di luar keinginan.

"Awalnya saya pikir harga jual ayam ketika panen akan mahal karena bibitnya mahal, malah jauh beda dengan panen sebelumnya," ujar Yazid, Rabu, 26 September 2018.

Seandainya harga jual di kisaran Rp17.000 atau Rp19.000 per kilogram (kg) saja, dia yakin masih untung. Akhirnya dia rugi banyak karena harga jual hanya Rp14 ribu per kg.

Mujur dia tidak mempekerjakan orang lain dalam merawat ayam pedagingnya. Hanya dia dan istrinya bergantian memberikan pakan minum dan lainnya.

Untuk musim ini, dia mengaku mengeluarkan modal sebesar Rp70.400.000. Itu sudah termasuk beli bibit 2.000 anak ayam dan pakannya. Ketika panen dan ditimbang, berat 2.000 ekor ayam tersebut berkisar 4 ton. Uang yang dia dapat setelah ayam dijual hanya sebesar Rp56 juta.

"Padahal itu belum saya hitung biaya listrik dan obat minumnya," terang Yazid.

Beda dengan musim sebelumnya, Yazid bisa mendapatkan untung Rp16 juta. Itu karena harga jual ayam Rp24 ribu per kg, sementara harga bibit ayam dianggap stabil, yaitu Rp700 ribu tiap 100 ekor.

"Mengapa saya bertahan? Karena ruginya peternak itu hanya sesekali. Untungnya lebih sering," terang Yazid.


(SUR)