Harga Garam di Probolinggo Meroket

Antara    •    Kamis, 06 Jul 2017 11:08 WIB
harga garam
Harga Garam di Probolinggo Meroket
Petani saat panen garam -- ANT/Saiful Bahri

Metrotvnews.com, Probolinggo: Harga garam di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, naik akibat persediaan garam di wilayah tersebut menipis. Harga garam yang sebelumnya Rp1 ribu per kilogram, kini menjadi berkisar Rp2.800 hingga Rp4 ribu per kilogram.

"Menipisnya persediaan disebabkan beberapa petani mengalami gagal panen selama beberapa pekan terakhir karena cuaca ekstrem. Saat musim kemarau terkadang masih turun hujan," kata Ketua Kelompok Tani Garam 'Kalibuntu Sejahtera I' Suparyono di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Probolinggo, Kamis 6 Juli 2017.

Suparyono menjelaskan, garam akan gagal panen saat terkena hujan. "Untuk menjadi garam, air laut itu harus BE (satuan usia air) 21. Berapa pun usia air laut saat dijemur di meja pengkristalan, akan kembali menjadi BE 0 apabila terkena air hujan," urainya.

Namun, Kelompok Tani Kalibuntu Sejahtera I beruntung karena memiliki bunker atau ruang penyimpanan garam di ladang. Ketika cuaca mendung tanda akan hujan, petani bisa menyedot air yang sudah dijemur ke dalam bunker.

"Misalnya, ketika hujan turun, saat itu usia air BE 16. Kemudian kami masukkan bunker selama hujan turun dan keesokan harinya ketika terik
matahari akan dikeluarkan lagi dengan BE tetap 16. Sehingga, kami tidak mengalami gagal panen," tutur Suparyono.

Menurut Suparyono, harga garam yang berkisar Rp2.800 hingga Rp4 ribu per kilogram saat ini termasuk cukup tinggi di Probolinggo dalam kurun waktu satu tahun terakhir. "Dengan harga sekarang, petani garam mendapatkan keuntungan berlipat-lipat," lanjutnya.

Suparyono bersama petani garam di Kelompok Tani Garam Kalibuntu Sejahtera I menggunakan teknologi Geomembran atau media alas plastik LDPE (Low Density Poly Ethylene). Metode ini terbukti mampu memaksimalkan produksi garam dibandingkan dengan metode tradisional menggunakan media tanah yang mudah terserap ke bawah.

"Produksi garam untuk media tanah biasanya menghasilkan sekitar 60-70 ton per hektare per musim panen. Sedangkan, dengan teknologi Geomembran dapat menghasilkan hingga 120 ton per hektare per musim panen," pungkasnya.


(NIN)