Keinginan Eksplorasi Minyak Jokowi Sekadar Mimpi

Daviq Umar Al Faruq    •    Kamis, 03 May 2018 16:12 WIB
migaspertamina
Keinginan Eksplorasi Minyak Jokowi Sekadar Mimpi
Pengamat ekonomi dan migas Faisal Basri usai menjadi pembicara di Konferensi Regional Akuntansi (KRA) ke-5 di Universitas Brawijaya, Malang, Kamis 3 Mei 2018. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq

Malang: Pengamat ekonomi, minyak dan gas (migas) Faisal Basri menyebut keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meningkatkan eksplorasi migas nasional secara mandiri mustahil dilakukan. Selain biayanya mahal, modal yang dikeluarkan harus berkelanjutan.

"Jadi hampir mustahil hanya dengan dana sendiri," katanya usai menjadi pembicara di Konferensi Regional Akuntansi (KRA) ke-5 di Universitas Brawijaya, Malang, Kamis, 3 Mei 2018.

Jokowi ingin eksplorasi di sektor migas meningkat serta meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan SKK Migas untuk menyederhanakan prosedur perizinan. Faisal menilai keinginan orang nomor satu di Indonesia tersebut mustahil dilakukan. Apalagi, keuntungan Pertamina terkadang sebagian besar diminta oleh pemerintah.

"Jadi tidak pernah utuh uangnya itu apabila akan digunakan untuk melakukan eksplorasi yang masif," beber lulusan Master of Arts dalam bidang ekonomi, di Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, ini.

(Baca: Jokowi Sindir Pertamina)

Faisal juga mengungkapkan, keuangan Pertamina terus terganggu. Keuangan mereka selalu terkuras dengan kerugian di tempat lain.

"Presiden pun harus sadar bila Pertamina itu semakin tidak lincah karena baru bikin rencana saja sudah diganti presdirnya. Di era Jokowi saja sudah dua kali diganti," ujarnya.

Faisal menyarankan agar pemerintah membantu menstabilkan kepemimpinan Pertamina. Kepemimpinan Pertamina yang kuat akan meningkatkan inovasi dan pemikiran yang jauh ke depan.

"Dirut Pertamina setiap hari terbelenggu, jangan-jangan besok dipecat. Diganggu pemerintahnya sendiri. Belum lagi diganggu dengan hal yang lain-lain," pungkasnya.

(Baca: Tanggapan Pertamina Soal Sindiran Jokowi)

 


(SUR)