Impor Garam tak Hargai Keringat Petani

Rahmatullah    •    Selasa, 25 Jul 2017 17:08 WIB
harga garam
Impor Garam tak Hargai Keringat Petani
Petani garam di desa Karangayar, kecamatan Kalianget, Sumenep, Madura, Jawa Timur. (Metrotvnews.com/Rahmatullah)

Metrotvnews.com, Sumenep: Petani garam di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, berharap pemerintah tidak mengimpor garam. Petani khawatir harga garam lokal yang tinggi akan rusak. 
 
“Kalau beredar garam impor, harga garam kami akan anjlok,” terang Syamsuri, petani garam di desa Karangayar, kecamatan Kalianget, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Selasa, 25 Juli 2017.
 
Saat ini, kata Syamsuri, belum ditemukan garam impor di pasaran. Tapi pada musim sebelumnya, garam tersebut gampang ditemukan.
 
Harga 1 ton garam garam pada musim lalu Rp700 ribu. Tahun ini, Syamsuri mengaku, tiap 1 ton garam bisa mendapatkan uang Rp3,5 juta. Melambungnya harga garam tersebut karena kekurangan stok, sementara permintaan banyak.
 
“Tiap hari saya selalu panen. Kami yakin bisa memenuhi kebutuhan garam,” ujarnya.
 
Harapan sama juga diungkapkan Abdurahman, petani garam di desa Pinggir Papas, kecamatan Kalianget. Menurut dia, jika garam impor masuk, keringat petani seolah kurang dihargai, karena harga garam lokal cenderung turun. Dia berharap keran impor garam tidak dibuka pemerintah.
 
“Kami baru sekarang menikmati harga garam tinggi. Semoga pemerintah tidak mengimpor garam, biar garam kami tetap diharga tinggi,” harapnya.
 
Dia mengaku tidak menunggu panen garam dalam jumlah banyak untuk dijual. Meski sedikit, dia langsung menjualnya dengan eceran. Dalam 1 ton garam, dia mengaku mendapatkan uang Rp3 juta.
 
Biasanya, kata dia, waktu normal panen garam tiap 10 hari. Tapi karena harga sedang bagus dan untuk memenuhi permintaan, garamnya ia panen tiap hari.


(SAN)