Kadin Surabaya: Kenaikan Harga Rokok Jangan Lebihi Inflasi

Amaluddin    •    Senin, 22 Aug 2016 21:29 WIB
rokok
Kadin Surabaya: Kenaikan Harga Rokok Jangan Lebihi Inflasi
Karyawan rokok kretek tengah bekerja di Jombang, MTVN - Nurul Hidayat

Metrotvnews.com, Surabaya: Rencana pemerintah menaikkan harga rokok hingga Rp50 ribu atau sebesar 23 persen menimbulkan reaksi banyak pihak. Salah satunya Ketua Kamar dagang dan Industri (Kadin) Surabaya, Jamhadi. Menurutnya, kenaikan cukai rokok tidak boleh lebih dari inflasi. 

"Memang harga rokok dikaitkan dengan mahalnya biaya kesehatan yang ditimbulkan oleh rokok, tapi angka 23 persen itu terlalu tinggi bagi kami," kata Jamhadi, Senin (22/8/2016).

Jamhadi menjelaskan paling tidak kenaikan cukai rokok tidak terpaut jauh dengan inflasi atau sekitar 7 persen. Tujuannya, kata dia, agar tidak berdampak bagi industri rokok. Menurut dia, angka tersebut sudah cukup tinggi baik dari sisi petani tembakau, sisi industri rokok, dan daya beli masyarakat.

"Memang kenaikan cukai rokok juga untuk menopang APBN, tetapi dampak berkelanjutan tersebut apakah sudah dilihat? Kan harus diperhitungkan juga," ujarnya.

Kadin Surabaya menyarankan agar pelaku industri rokok dalam negeri juga perlu menyasar pasar luar negeri atau ekspor. Karena, kata dia, ini dapat mengurangi imbas dari banyaknya perda pelarangan rokok di beberapa daerah. 

“Masyarakat pasti sudah punya pilihan, terlepas dari harga rokok mahal atau tidak,” katanya.

Rencana pemerintah menaikkan tarif rokok itu muncul setelah keluarnya hasil studi yang dilakukan Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany. Kini, rencana itu pun menuai kritik berbagai kalangan.

Namun, Kementerian Keuangan belum mengeluarkan kebijakan itu. Kemenkeu kini tengah berkonsultasi dengan berbagai pihak sambil memperhatikan UU Cukai.


(UWA)