Cerita Mantan Loper Koran yang Kini Mengumpulkan Omset Miliaran Rupiah

Amaluddin    •    Jumat, 28 Oct 2016 11:29 WIB
bisnis
Cerita Mantan Loper Koran yang Kini Mengumpulkan Omset Miliaran Rupiah
Khilda menunjukkan kerajinan tangan yang mendaur ulang sampah di acara pameran di Pasuruan, MTVN - Amaluddin

Metrotvnews.com, Surabaya: Seorang perempuan berkerudung menawarkan sejumlah barang kepada pengunjung saat pameran Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna Expo 2016 di Gedung Woloe, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Siapa sangka barang-barang tersebut merupakan komoditas daur ulang sampah.

Adalah Khilda Baiti Rohmah, yang menyulap sampah menjadi komoditas bernilai. Tak tanggung-tanggung, usahanya itu sukses mengumpulkan omset miliaran rupiah setiap tahun.

Bukan hal yang mudah bagi Khilda untuk menapaki kesuksesan. Namun ia berhasil melewati jalan-jalan menuju keberhasilan.

Semula, perempuan asal Cimahi, Jawa Barat, itu berprofesi sebagai loper koran. Tiap hari, ia bangun pagi untuk mengantar koran ke sejumlah kios. Dua tahun ia menggeluti profesi itu. Hingga akhirnya pada 2005, ia lulus SMA.

"Saya tidak kuliah karena kondisi ekonomi keluarga tak memungkinkan," kata perempuan berusia 38 tahun itu.


(Kerajinan tangan bernilai rupiah dengan mendaur ulang sampah di acara pameran di Pasuruan, MTVN - Amaluddin)

Tapi kondisi itu tak membuat Khilda berkecil hati. Anak pertama dari lima bersaudara itu pun memutuskan bekerja untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

"Yang paling saya pikirkan nasib pendidikan adik-adik. Saya ingin pendidikan mereka bisa sampai jenjang kuliah," kata Khilda, saat Metrotvnews.com menemuinya di pameran Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna Expo 2016 yang ke-8, di Gedung Woloe, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, diberitakan Jumat (28/10/2016).

Selain melanjutkan bekerja sebagai loper koran, Khilda mengumpulkan sampah dan barang bekas. Ia menjual barang-barang tak berharga itu ke pengepul.

Hasil usahanya, ia gunakan untuk membiayai hidup keluarga. Ia juga dapat membantu biaya pendidikan empat adiknya. 

Di saat itu, Khilda melihat seorang bapak yang hendak menjual istrinya. Alasannya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

"Bapak-bapak yang saya temui itu adalah tukang sampah, hobinya berjudi. Saat kalah judi, ia bingung untuk buat makan, hingga akhirnya berniat jual istrinya," cerita Khilda.

Beberapa bulan kemudian, Khilda mengaku juga bertemu dengan seorang bapak pengangkut sampah yang memiliki delapan anak. Sementara penghasilan bapak tersebut hanya Rp350 ribu per bulan. 

Hati Khilda pun terketuk untuk membantu mereka. Ia pun memutar otak untuk mengelola sampah jadi barang bernilai. Kini, bapak pengangkut sampah itu menjadi anggota komunitasnya.

Ia menyulap kaleng, karung, botol, plastik, pipa bekas, kulit telur, kresek plastik, menjadi kerajinan. Ia lalu menjual kerajinan tangan itu ke pasaran. Hasil kerajinan tangannya berupa asbak dengan bawahan pipa bekas, tas terbuat dari karung, dan  eceng gondok menjadi berbagai macam handycraft lainnya.

"Usaha itu kami mulai sekitar tahun 2006," kata Khilda yang akhirnya membentuk Komunitas SampahKoe.

Saat itu, Khilda mengaku hanya memiliki modal awal sebesar Rp150 ribu. Ia kemudian mengajak 12 temannya untuk mengembangkan konsep tersebut. Kemudian ia mengikuti sejumlah pameran di Jawa Barat. 

Melalui pameran itu, ia berhasil menjual kerajinan tangannya. Misalnya asbak pipa dijual dengan harga Rp15.000, tas karung dijual dengan harga Rp30 ribu, dan masih banyak lainnya.

"Bahkan kerajinan tangan dari sampah ini menjadi souvenir dalam berbagai acara seperti nikahan dan acara pemerintahan. Saat itu omset kami sekitar Rp20 juta per bulan," katanya.

Ia terus menekuni bisnis tersebut. Jumlah anggota komunitasnya meningkat. Bahkan pada 2016, jumlah anggotanya mencapai 5.000 orang. Bukan hanya di Jawa Barat. Anggota Komunitas Sampahkoe menjalar ke Jambi, Kalimantan Timur, Jawa Tengah. Jawa Timur, bahkan Papua Barat.

"Hampir setiap bulan kami kunjungi mereka untuk diberikan pembinaan. Misalnya bulan ini ke Jatim, bulan depan ke Jambi, dan seterusnya," terangnya.

Saat ini, hasil kerajinan Khilda dan teman-temannya menjadi komoditas ekspor. Sebanyak 35 negara tujuan komoditas itu, diantaranya Amerika, Korea, Jepang, Cina, Swedia, Australia, Afrika, India, Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. "Komoditas kami mulai diekspor ke 35 negara pada tahun 2011," kata Khilda.

Kesuksesan Khilda ini tidak luput dari campur tangan PPK Sampoerna, yang turut serta mempromosikan ‎produk tersebut dalam setiap pameran yang ada. "Bahkan pada 2013, kami menjadi delegasi Indonesia pada pameran di Asian Pasific," ungkap Khilda.

Sementara omset yang dihasilkan Khilda saat ini juga meningkat drastis, yakni Rp300 juta per bulan pada 2013 dan 2014. Naik menjadi Rp400 juta per bulan sekitar 2014 dan 2016. "Kalau omset per tahun bisa mencapai Rp1,4 miliar hingga Rp2 miliar," pungkasnya.



(RRN)