Rokok Ilegal Pengaruhi Dana Bagi Hasil dengan Pemda

Syaikhul Hadi    •    Jumat, 28 Oct 2016 19:03 WIB
cukai
Rokok Ilegal Pengaruhi Dana Bagi Hasil dengan Pemda
Petugas menunjukkan rokok ilegal yang disita, Ant - Yusuf Nugroho

Metrotvnews.com, Sidoarjo: Produksi rokok berpita cukai palsu (rokok ilegal) dapat menurunkan penerimaan negara dan besaran Alokasi Dana Bagi Hasil (DBH) di bidang cukai. Padahal dana tersebut dibagikan kepada pemerintah provinsi sebagai penghasil cukai.

Hal itu disampaikan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani saat merilis hasil penindakan terhadap peredaran rokok ilegal dan pembuatan pita palsu di kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jatim I Juanda. 

"Dana bagi hasil tersebut untuk mendanai program peningkatan kualitas bahan baku, pbinaan industri, lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan bidang cukai, dan untuk mendanai pemberantasan barang kena cukai ilegal," kata Sri Mulyani.

Meski begitu, hal yang paling mengkhawatirkan yaitu jumlah perokok pemula meningkat. Sebab, harga rokok ilegal jauh lebih murah di pasaran.

Sedangkan potensi dampak sosial ekonomi yakni adanya persaingan usaha yang tidak sehat. Sehingga merugikan pengusaha yang sudah taat pada ketentuan Perundang-undangan di bidang cukai. 

"Makanya kita intensifkan untuk kedua Dirjen. Baik Dirjen bea cukai maupun Dirjen pajak untuk terus melakukan tindakan terhadap peredaran rokok ilegal. Sehingga kepentingan negara (dalam hal ini keuangan negara) bisa terlindungi," tegasnya, 

Selain itu, pihaknya juga menghimbau agar melakukan audit pada perusahaan-perusahaan yang legal. Karena bisa saja sewaktu-waktu perusahaan yang legal memproduksi produk-produk yang tak diinginkan. Sehingga hal ini tidak hanya berdampak pada kerugian cukai, melainkan pajak. 

"Karena bisa saja jumlah penerimaan mereka yang lebih tinggi dan tidak dilaporkan. Baik untuk kepentingan pajak maupun mnghindar dari pembayaran cukai. Saya sudah minta untuk sentra sentra produksi baik di Jatim maupun di Jawa Tengah," imbuh Sri. 

Pihaknya mencontohkan bahwa ada salah satu perusahaan pembuatan mutiara, yang mana sumbangan terhadap penerimaan pajak negara sangat kecil. Sedangkan produknya sudah sangat dikenal di luar negeri. 

"Makanya kita upayakan untuk terus mengintensifkan baik Dirjen bea cukai maupun Dirjen pajak agar terus melakukan pengawasan di bidangnya masing-masing," tandasnya. 

Dari hasil operasi Halilintar yang digelar Kanwil Bea dan Cukai Jatim I dan Jatim II, telah diamankan sekitar 78 juta batang rokok dari berbagai produksi rokok. Sedangkan kerugian negara akibat peredaran rokok ilegal ditaksir mencapai lebih Rp50 miliar.


(RRN)