Energi Panas Gunung Agung Bisa Terangi Satu Kampung di Karangasem

Raiza Andini    •    Minggu, 03 Dec 2017 07:02 WIB
gunung berapierupsi gunungerupsi gunung agung
Energi Panas Gunung Agung Bisa Terangi Satu Kampung di Karangasem
Penampakan Gunung Agung. Foto: Metrotvnews.com/ Raiza Andini.

Karangasem: Satelit NASA Modis telah mendeteksi adanya anomali panas dari kawah Gunung Agung sebesar 97 megawatt (MW). Dengan panas tersebut diprediksi dapat menghasilkan tenaga listrik untuk satu kampung di Kabupaten Karangasem.

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM I Gede Suantika mengatakan selain bisa menerangi seribu meter atau hampir satu kampung di Kabupaten Karangasem, anomali panas Gunung Agung tersebut juga bisa menghanguskan tumbuh-tumbuhan dan juga tubuh manusia.

“Panasnya itu bisa seribu sampai seribu lima ratus derajat celcius kebayang deh kayak gimana untuk tumbuh-tumbuhan dan manusia,” terang Suantika di pos pantau Gunung Agung, Desa Rendang, Karangasem, Sabtu 2 Desember 2017.

Suantika mengatakan, saat ini anomali panas yang dideteksi satelit NASA Modis telah menurun mengikuti aktivitas Gunung Agung yang sudah tiga hari terakhir mengalami penurunan yang signifikan.

Saat ini posisi magma telah membanjiri sepertiga kawah Gunung Agung. Namun, satelit NASA Modis menangkap adanya penurunan intensitas panas Gunung Agung, lantaran tertutup awan dan juga hujan secara terus menerus semenjak letusan freato-magmatik pekan lalu.

“Karena ketutup awan dan enggak ada suplai lagi, abu enggak ada, jadi enggak ada yang ngalir lagi kan. Sampai saat ini masih enggak ada asap,” tambah dia.

Sementara itu diwawancarai secara terpisah, Kepala Subdit Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM Devy Kamil Syahbana mengatakan energi termal di Gunung Agung lebih besar dua kali lipat.

Jika termal Gunung Agung masih berada di dalam kawah, maka panasnya tidak akan berefek ke beberapa wilayah di Bali. Namun, jika lavanya terlontar keluar dan menyentuh udara maka akan terfragmentasi menjadi material seperti abu vulkanik dan bebatuan apung.

“Kalau dia terlontarkan tidak akan berbentuk lavanya keluar utuh, dia akan hancur jadinya abu. Kalau sudah terdeteksi NASA Modis itu berarti dia suhunya sangat tinggi,” tandas Devy.


(SCI)