Geliat Pelaku UMKM di Jatim

Amaluddin    •    Selasa, 08 Aug 2017 19:23 WIB
kerja bersama
Geliat Pelaku UMKM di Jatim
Yuni Triwijayati, salah satu pelaku UMKM sepatu di Surabaya. MTVN/Amal

Metrotvnews.com, Surabaya: Pantang menyerah dan totalitas adalah kunci keberhasilan sejumlah pelaku UMKM di Jawa Timur. Meski menemui tantangan dan keterbatasan, mereka tidak putus asa untuk sukses, hingga akhirnya produk mereka sampai ke mancanegara.

Yuni Triwijayati, 34, Warga Putat Jaya, Surabaya, patut diacungi jempol. Dia sukses menciptakan wirausaha andal, tanpa modal, hingga memiliki pendapatan puluhan juta per bulan. Ini hasil jerih payah Yuni sebagai pengrajin sepatu yang ditekuninya sejak empat tahun terakhir, sejak 2014 lalu.

"Saya dulu hanya sebagai ibu rumah tangga, sekarang saya sebagai pengrajin sepatu. Alhamdulillah sekarang sudah punya penghasilan," kata Yuni, ditemui di kawasan Eks Lokalisasi Dolly, Selasa, 8 Agustus 2017.



Yuni menceritakan, semula dirinya ingin memiliki pekerjaan untuk membantu suaminya menambah penghasilan guna mencukupi kebutuhan hari-harinya. Pada 2014, Yuni mendapat tawaran dari temannya untuk ikut pelatihan sebagai pengrajin sepatu. "Selama dua tahun saya belajar, dan alhamdulillah sekarang sudah bisa membuat sendiri," kata Yuni.

Pada 2016, Yuni bingung karena tidak memiliki cukup modal. Berbagai upaya ia lakukan, hingga akhirnya mendapat bantuan dari pemerintah kota (Pemkot) Surabaya. Bantuan dari pemerintah itu berupa bahan-bahan sepatu, mesin jahit, kain, kemudian mendapat bantuan fasilitas tempat dan pemasaran produk. 

"Setahun setelah itu, pendapatan sekitar Rp3 juta per bulan, naik menjadi sekitar Rp15 juta per bulan pada 2017," katanya.

Baca: Pameran UMKM Jatim Bidik Transaksi Rp5,7 Miliar

Beberapa produk sepatu Yuni terus berkembang pesat. Tak hanya di dalam negeri, juga diproduksi hingga ke luar negeri. "Ada yang pesan dari Malaysia, Brunei Darussalam, Pakistan, Tiongkok, Korea. Sebenarnya kita tidak memproduksi ke luar negeri. Tapi by order aja. Hasil produksi itu kemudian kami putar untuk membeli bahan dan lainnya," kata perempuan ibu rumah tangga itu.

Saat ini, lanjut Yuni, sepatu yang ia buat kebanjiran order, utamanya sepatu-sepatu dinas untuk dinas-dinas di beberapa daerah di Jatim, misalnya di Kabupaten Blitar, Probolinggo, hingga ke Papua. Sepatu kulit yang ia jual rata-rata dibanderol sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. 

"Ada yang order 2.000 sepatu, ada yang 1.800 sepatu, bahkan ada yang order 5.000 sepatu per pekan," kata Yuni.



Tak hanya dinas-dinas pemerintah di Jatim, pengrajin sepatu yang tergabung dalam UKM Kelompok Usaha Bersama (KUB Mampu Jaya) itu juga kerap mendapat orderan sandal hotel. Dalam sepekan, ia mendapat orderan sandal sekitar 2.000 pasang. Hasil dari produksi itu,  UKM KUB Mampu Jaya bisa meraih omzet sekitar Rp15 juta per bulan. 

"Alhamdulillah, dulu saya hanya ibu rumah tangga sekarang bisa bekerja jadi pengrajin sepatu," kata Yuni.

Pengky Gunawan, 40, warga Kali Kebiting, Surabaya, pembatik juga mengalami peningkatan produk batiknya. Pada 2016 lalu, omzet dari membatik mencapai sekitar Rp2 juta per bulan, naik menjadi Rp9 juta per bulan. 

Selain membatik, Pengky juga membantu sekitar 100 warga binaan di Surabaya. Ini merupakan salah satu tujuan didirikannya pengrajin batik di eks Lokalisasi Dolly. Rumah batik ini, satu tempat yang didirikan pemkot untuk berdayakan warga Surabaya khususnya, dan warga Jatim umumnya.

"Sekitar tahun 2016, anak binaan kami meraih juara satu dalam pameran produk UMKM tingkat Jatim. Saya lupa namanya, yang jelas anak tersebut tergolong cerdas karena hanya belajar satu tahun membatik, dan kini menjadi pengrajin batik di daerahnya, Bojonegoro," ujarnya. 

Baca: UMKM Penopang Terbesar PDRB Jatim

Lain halnya dengan Siti Huraira. Perempuan asal Surabaya ini memiliki produk tas berbahan kulit. Bahkan, hasil karyanya ini mendapat perhatian khusus dari Kementerian Perindustrian (Kemenprin) untuk ikut tampil di event internasional, yakni pameran Collection Premiere Moscow (CPM) 2017 di Moscow.

"Sudah dua tahun terakhir ini saya diminta pemerintah pusat mewakili Indonesia dalam pameran internasional," kata perempuan yang memiliki produk tas bermerek Huraira Leather Bag (HLB) itu.

Awal karir usahanya dimulai dari seorang perias pengantin, karena ketekunan dan keuletannya, perempuan yang akrab disapa Ira itu justru menjadi perias pengantin kondang di Kota Surabaya. Bahkan sebagian pelanggannya kalangan menengah keatas.

Sementara usaha produksi tas kulit dengan merek Huraira Leather Bag terbilang baru, Ira merintisnya di Februari 2015. Hasil produksinya kini telah berkembang pesat sampai ke manca negara. Menurutnya, ide tersebut muncul karena dirinya ingin membalas kebaikan temannya yang pernah memberikan suvenir.

"Awalnya dapat suvenir dari seorang teman saya. Kemudian saya ingin membalasnya, tapi saya enggak pengen produk yang unik, maka terpikirlah untuk membuat suvenir sendiri, sejak itulah keterusan membuat sendiri hingga sekarang, karena banyak yang menyukai,” kata Ira.

Bahkan, kata Ira, hasil produknya itu pernah menjadi perhatian Gubernur Jatim Soekarwo. Kemudian Soekarwo menjadikan Ira sebagai duta untuk pameran produk unggulan Jatim di Australia.

“Kalau sekarang sudah banyak tawaran untuk pameran dan pesanan, bahkan saat ini kami juga sedang mempersiapkan beberapa produk unggulan terbaru untuk sebuah pameran fashion internasional di Moscow,” ucapnya.

Event internasional itu nantinya akan diikuti oleh para desainer dari manca negara. HLB Surabaya sendiri tampil untuk mewakili Indonesia. Pameran itu akan dimulai pada 30 Agustus hingga 2 September 2017

"Kami sudah mempersiapkan diri tampil di kancah dunia. Kami juga sudah siapkan desain-desain baru, nantinya akan ada 20 item karya yang akan ditampilkan di even tersebut," kata Ira.

Ke-20 jenis tas kulit yang akan ditampilkan di Moskow nanti memang dibuat secara terbatas dan limited edition. Kualitas produk HLB tak diragukan lagi. Saat ini, produk HLB sudah banyak dikoleksi masyarakat dari manca negara, di antaranya dari Australia, Inggris, Tiongkok, dan beberapa negara Eropa Timur. 

"Tetapi kami sampai hari ini memang belum secara khusus melayani pasar luar negeri. Biasanya warga negara asing atau turis itu, membeli langsung ke studio kami di galery ini," katanya.

Dengan adanya pameran itu, Ira berharap bisa menembus pasar dunia lewat berbagai pameran keluar negeri nantinya. "Kalau kolektor atau pembeli dari luar negeri memang sudah ada. Harapan kami lewat pameran di Moskow nanti, kami bisa berhasil dan bisa memasarkan makin luas lagi," kata Ira.


(ALB)