Dapat Gelar Honoris Causa, Cak Imin Janji Bangun Pusat Studi Kebhinekaan

Amaluddin    •    Selasa, 03 Oct 2017 15:15 WIB
pendidikan
Dapat Gelar Honoris Causa, Cak Imin Janji Bangun Pusat Studi Kebhinekaan
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang ilmu sosiologi politik dari Universitas Airlangga -- MTVN/Amaluddin

Metrotvnews.com, Surabaya: Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang ilmu sosiologi politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. Sidang penganugerahan gelar kehormatan dilaksanakan di ‎Gedung Garuda Mukti pada Selasa 3 Oktober 2017.

Pria yang akrab disapa Cak Imin ini berjanji mendirikan pusat studi multikulturalisme atau pusat studi kebhinekaan di Unair. Pusat studi multikulturalisme itu akan menjadi satu-satunya di Indonesia.

"Saya berkeinginan ke depan Unair menjadi pusat Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), sehingga bisa berperan langsung dalam kehidupan sosial kemasyarakatan," kata Cak Imin.

Cak Imin berharap, pusat studi yang didirikannya dapat mencegah berbagai ancaman kebhinekaan yang selama ini sering menjadi polemik di Indonesia. "Fraksi maupun organ kemasyarakatan bisa dilibatkan untuk solusi potensi, terutama bidang kajian ini. Saya siap mengerahkan potensi dari berbagai kalangan," ujarnya.

Rektor Unair Moh. Nasih menyambut baik rencana Cak Imim mendirikan pusat studi multikulturalisme. Ia mengaku, telah menyiapkan berbagai hal terkait pembangunan pusat studi tersebut.

"Sedang kita siapkan, karena tidak mudah mendirikan pusat studi seperti itu. Tempatnya masih kita pilih, mana yang cocok dan sesuai. Nanti kalau sudah siap, Insyaallah Cak Imin akan datang lagi," kata Nasih.

Nasih berharap, dibukanya pusat studi multikulturalisme di Unair dapat mengilmiahkan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusian) yang selama ini banyak diajarkan di kalangan pondok pesantren.

"Banyak pemikiran Cak Imin dan kalangan NU. Kalau munculnya dari kalangan NU, dianggap selalu kurang ilmiah. Kalau munculnya dari kalangan kampus, tentu rasanya beda, magnetnya beda. Kita ingin mendorong dan terus mengembangkan hal-hal yang seperti itu," pungkas Nasih.


(NIN)