Empat Kabupaten di Jatim Mengalami Kekeringan Terparah

Amaluddin    •    Selasa, 09 Oct 2018 18:04 WIB
kemaraukekeringan
Empat Kabupaten di Jatim Mengalami Kekeringan Terparah
Pengendara melintas di atas jembatan Dam Sarangan yang kering di Wonoasri, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Rabu (3/10). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto.

Surabaya: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat 23 dari 38 Kabupaten/Kota di wilayahnya mengalami kekeringan. Dari jumlah itu, empat kabupaten menjadi daerah terparah mengalami kekeringan.

"Paling parah ada empat kabupaten, yakni 42 Desa di Kabupaten Sampang mengalami kekeringan, kemudian 37 Desa di Trenggalek, 30 Desa di Ngawi, dan 25 Desa di Gresik. Sementara kabupaten lainnya rata-rata 4-10 Desa mengalami kekeringan," kata Kepala Plaksana BPBD Jatim, Suban Wahyudiono, saat dikonfirmasi, Selasa, 9 Oktober 2018.

Suban menjelaskan, ada tiga kategori kekeringan yang melanda daerah di Jatim. Pertama adalah Kering Langka Terbatas, itu artinya masih ada persediaan air kurang dari 60 liter per orang per hari.

"Sementara jarak sumber air dari pemukiman warga sekitar 500 meter. Air itu digunakan untuk masak, makan, dan mandi," jelas Suban.

Kedua adalah Kering Langka, di mana persediaan air kurang dari 30 liter per orang per hari. Sedangkan jarak sumber air dari pemukiman warga sekitar 3 kilometer.

"Kemudian ketiga adalah Kering Kritis, persediaan air kurang dari 30 liter per orang per hari. Jarak untuk mengambil air sekitar 1 hingga lebih dari 3 kilometer dari pemukiman warga," ungkap Suban.

Saat ini, lanjut Suban, ada 442 desa yang mengalami kekeringan di Jatim. Dari jumlah itu, sebanyak 199 desa mengalami kekeringan kritis yang berarti tidak ada potensi air.

"Kabupaten dengan kekeringan kritis terparah yaitu kabupaten Sampang dengan 42 desa," beber Suban.

Ada dua cara untuk mengatasi kekeringan kritis ini, yakni jangka pendek dan menengah. Untuk jangka pendek, Pemprov Jatim mengedrop air sebanyak 1 tangki berisi 6.000 liter per desa per hari.

Kemudian untuk jangka menengah adalah dengan membuatkan sumur bor, tandon air dengan membuat pipa air ke pemukiman warga terdampak kekeringan. 
"Jadi itu langkah untuk mengatasi kekeringan di Jatim. Sedangkan untuk jangka panjang masih belum ada pembahasan," pungkas Suban.


(DEN)