Sebagian Pengojek Daring di Sidoarjo Tetap Beraktivitas

Syaikhul Hadi    •    Rabu, 04 Apr 2018 18:23 WIB
ojek online
Sebagian Pengojek Daring di Sidoarjo Tetap Beraktivitas
para ojek online masih menerima order di Sidoarjo

Sidoarjo: Seruan untuk tidak mengambil order penumpang tak semua dilakukan pengojek daring di Sidoarjo. Masih banyak pengojek daring yang beraktivitas seperti biasanya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Seperti yang dilakukan Roni, 39, asal Sidoarjo, Jawa Timur. Pria paruh baya tersebut nampak terlihat di sekitaran alun-alun sedang menunggu order penumpang. Sesekali dia tampak fokus melihat ponselnya.

"Nunggu orderan mas," ucap Roni kepada Medcom.id, Rabu, 4 April 2018.

Ditanya soal aksi Gerakan Aksi Roda Dua (Garda) untuk tidak mengambil order penumpang, menurutnya hal itu tak jadi masalah. Meski begitu, pihaknya tetap beraktivitas seperti biasanya.

"Namanya orang cari rejeki,  kalau mogok terus gimana gtu," katanya lagi.

Baca: Pengojek Daring Diimbau tak Ambil Orderan Hari Ini

Sejatinya seruan itu sama dirasakan Roni. Yakni sama-sama menginginkan kenaikan tarif. Karena tarif yang selama ini memang terlalu murah. Belum lagi, dia yang baru beralih dari wiraswasta ke daring harus merasakan beberapa potongan.

"Seperti admin, cicilan jaket, dan helm. Biasanya dipotong Rp15 ribu setiap harinya. Sekarang sudah menjadi Rp.7000 perhari," terangnya.

Penurunan biaya tersebut bisa terealisasi setelah adanya kebijakan dari manajemen daring yang digelutinya. Namun, hal itu tidaklah cukup lantaran belum ada mekanisme yang jelas dalam mengelola manajemen.

"Bayangkan setiap hari dipotong Rp15 ribu. Jika dikalkulasi sekarang sudah mencapai Rp600 ribu. Katanya mau dikembalikan, tapi sampai saat ini tidak jelas asal-usulnya," tambahnya.

Perhari, pengojek daring ini hanya mampu meraup rejeki kisaran Rp80 sampai Rp100 ribu. Dengan adanya berbagai persoalan saat ini, pendapatannya pun kerap menurun.

Senada juga dirasakan Rachman, 45, yang juga warga Sidoarjo, Jawa Timur. Pihaknya tak mengetahui betul terkait informasi mogok massal pengojek daring. Biasanya informasi akan diterima melalui grup. 

"Enggak tahu informasinya. Biasanya ada pemberitahuan melalui grup. Hari ini enggak ada," kata Rachman yang nampak kaget.

Namun, dirinya baru menyadari saat salah satu temannya mengatakan bahwa hari ini banyak yang tidak mengambil orderan penumpang. Diakui, persoalan tarif yang terkesan murah sempat ramai dikalangan pengojek daring. Sehingga mereka menuntut agar tarif bisa dinaikkan.

"Memang tarif terlalu murah. Mungkin karena penentuan dari sananya. Sebenarnya kalau naik kan lebih bagus. Bisa menambah penghasilan," katanya.

Biasanya, tarif ojek daring hanya dihargai Rp.1.200 per km. Hal itu dirasa belum mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi, akhir-akhir ini kerap terjadi persoalan. Sehingga berpengaruh pada pendapatan.

"Biasanya sekitar 100 ribu, kalau ramai bisa sampai Rp.200 ribu. Tapi sekarang enggak menentu. Bahkan bisa dibawahnya Rp.100 ribu," tambah Rachman.

"Harapannya bisa kembali normal. Dan tarif bisa dinaikkan untuk menambah penghasilan," tandasnya. 


(ALB)