Pengunggah Status tentang Megawati di Facebook Dilaporkan

Syaikhul Hadi    •    Rabu, 06 Sep 2017 19:33 WIB
ujaran kebencian
Pengunggah Status tentang Megawati di Facebook Dilaporkan
Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo--MI/Adam Dwi

Metrotvnews.com, Sidoarjo: Akun Facebook Dandhy Dwi Laksono dilaporkan Dewan Pengurus Daerah Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Jawa Timur ke Mapolda Jatim, Rabu 6 September 2017. Akun itu dilaporkan gara-gara menulis status tendensius terhadap Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Ketua Repdem Jawa Timur, Abdi Edison, menilai status yang diunggah pada 3 September lalu itu tendensius. Ada upaya menggiring opini terhadap Megawati. Generasi muda akan beranggapan rezim Megawati sama dengan kepemimpinan Aung San Suu Kyi.

"Bahaya jika dibiarkan," kata Abdi di Mapolda Jatim, Rabu 6 September 2017.

Dia bilang, dalam status di akun Facebook itu ada upaya penggiringan opini bahwa Megawati dengan Aung San Suu Kyi sama dalam konteks mengutamakan kekerasan dalam pemerintahan. Peristiwa pembantaian etnis Rohingya oleh pemerintah Myanmar, tak lain untuk menghina dan menebarkan kebencian terhadap Ketum PDIP Megawati dan Presiden Joko Widodo atas persoalan Papua.

"Kami ingin membela dan menjaga marwah Ketum kami. Dia sudah menyerahkan sepenuhnya perkara ini ke pihak kepolisian," kata Abdi.

Menurut Abdi, Dalam tulisan dalam akun Facebook itu, disebutkan, tepat setelah Megawati kembali berkuasa lewat kemenangan PDIP dan terpilihnya Presiden Joko Widodo yang disebutnya sebagai petugas partai (sebagaimana Suu Kyi menegaskan kekuasaannya), jumlah penangkapan warga di Papua tembus 1.083 orang.

Selain itu, dalam tulisannya, Dhandy memulai paragrafnya dengan menyandingkan antara Aung San Suu Kyi dengan Megawati. Pada Bagian berikutnya disebutkan pula kegemarannya atas peristiwa pembantaian yang terjadi di Myanmar. Yang kemudian dari peristiwa yang membuat keprihatinan bersama itu, oleh Dhandy lantas dicari persamaan-persamaan antara Suu Kyi dengan Megawati.

"Sehingga secara keseluruhan opini tersebut bermaksud 'menggoreng' peristiwa yang terjadi di Myanmar untuk menghina dan menebarkan kebencian kepada Megawati Soekarno Putri dan Presiden Joko Widodo," ujarnya.


(ALB)