Madrasyah Diniyah Sumenep Bersyukur Sekolah 5 Hari Dibatalkan

Rahmatullah    •    Kamis, 07 Sep 2017 21:29 WIB
pendidikan
Madrasyah Diniyah Sumenep Bersyukur Sekolah 5 Hari Dibatalkan
Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani

Metrotvnews.com, Sumenep: Terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Pendidikan Karakter disyukuri kalangan pengelola Madrasah Diniyah (Madin) di Sumenep, Jawa Timur. Program lima hari sekolah yang sempat menuai kontroversi pun tak lagi wajib dilakukan.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Madin Kecamatan Lenteng, Suryadi Ali Sa’di, menyebut kerja Madin akan terecoki jika semua lembaga pendidikan wajib menjalankan program 5 hari sekolah. Sinkronisasi kebijakan kegiatan belajar mengajar dengan lembaga lain sulit direalisasikan.

“Jelas sekali kami keberatan jika lima sekolah itu diterapkan. Dampak paling buruk adalah Madin bisa gulung tikar,” terang Suryadi, Kamis 7 September 2017.

Sementara itu, Suryadi menyambut hangat pendidikan berkarakter. Madin yang rata-rata telah menerapkan pendidikan berkarakter.

Namun, dia mengaku belum tahu apakah pendidikan berkarakter di Madin dan apayang diinginkan pemerintah sejalan.

“Kita belum tahu secara pasti bentuk pendidikan karakter yang diteken presiden itu. Tapi saya yakin muaranya pada pembentukan moral yang bagus,” terang dia.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep (DPKS), Mohammad Suhaidi, menyebut program Madin telah memiliki pembangunan karakter dengan menggunakan agama sebagai panduan.

“Pendidikan keagamaan penting bagi siswa untuk membentuk moral mereka,” ungkap Suhaidi.

Sedangkan kegiatan belajar mengajar lima hari dinilainya sulit dilakukan di Madin daerah-daerah. Sebab, fasilitas dan sarana yang dimiliki tiap sekolah tidaklah sama.

Misalnya, sekolah yang siswanya kebanyakan muslim, akan kerepotan untuk menyediakan tempat ibadah. Rata-rata sekolah hanya memiliki musalla kecil. Tentunya ini akan tidak memadai bila siswa harus sekolah seharian penuh.

Suhaidi juga menilai kebijakan tersebut akan membuat siswa tertekan “Anak yang hidup dalam suasana tertekan, perkembangan psikisnya akan cenderung bermasalah,” tutupnya.


(SUR)