Sopir Angkot Surabaya: Nek Ono Pungli, Wani Gelute

Muhammad Khoirur Rosyid    •    Kamis, 17 Nov 2016 16:31 WIB
pungutan liar
Sopir Angkot Surabaya: <i>Nek Ono Pungli, Wani Gelute</i>
Puluhan angkot terparkir di Terminal Joyoboyo, Surabaya, Jatim lantaran sepi penumpang. (Metrotvnews.com/MK Rosyid)

Metrotvnews.com, Surabaya: Kamis, 17 November 2016, terminal angkutan umum Joyoboyo, Kota Surabaya, Jawa Timur terlihat sepi. Siang itu, puluhan sopir tampak asyik bercengkrama sementara mesin angkot mati di lahan parkir.

Satu-dua penumpang memang terlihat masuk angkot. Tapi, angkutan antara kota itu baru akan jalan kalau semua kursi terisi. Atau setidaknya hampir penuh.

“Sekarang sepi. Banyak yang sudah beralih ojek," kata Darsono, seorang sopir angkutan umum.

Dia mengaku akhir-akhir ini pendapatannya terus turun. Tarikan sewa sehari seringnya pas kalau tidak kurang untuk menutup setoran. "Bisa buat beli bensin saja sudah alhamdulillah,” katanya.

Meskipun seorang sopir, Darsono juga turut mengikuti perkembangan kabar nasional. Adanya pungli juga didengar para sopir. Ungtung saja pungli selama ini tidak pernah menimpanya.

Nek sampek ono pungli, yo, wani gelute (kalau ada pungli, ya, berani berkelahi),” kata bapak tiga anak itu.

Darsono menjalani profesi sopir angkutan umum sejak 31 tahun lalu. Selama itu, dia mengaku belum pernah dipungut secara illegal oleh petugas. Hanya ada iuran sesama sopir angkutan yang diketahui semua sopir tanpa melibatkan petugas pemerintahan.

“Pendapatan kita minim, kok, mau dipungut segala. Ini saja sejak pagi saya baru dapat empat penumpang. Uang saya tinggal Rp2 ribu,” ujarnya.

Senada, Muslih, 47, sopir angkutan lainnya, juga tak pernah dimintai uang secara ilegal. Selama 16 tahun menjadi sopir, petugas dari dishub maupun kepolisian tidak pernah ada tarikan ilegal.

“Belum pernah ada. Kita saja kesulitan cari pendapatan masa mau dipungli,” ungkapnya.

Bapak tiga anak ini mengaku pendapatannya setiap hari tidak menentu. Terkadang dia juga harus rugi untuk ganti uang bensin.

“Kita semua ini angkutannya sewa. Kalau ada pekerjaan lain, misalnya kerja jadi kuli bangunan saya berangkat,” ungkapnya.


(SAN)