Dianggap Langka, Petani Sebut Garam Justru Menumpuk di Sumenep

Rahmatullah    •    Minggu, 03 Sep 2017 11:16 WIB
produksi garam
Dianggap Langka, Petani Sebut Garam Justru Menumpuk di Sumenep
Petani garam di Kalianget Sumenep beristirahat usai panen, MTVN - Rahmatullah

Metrotvnews.com, Sumenep: Fenomena ajaib. Demikian dikatakan petani garam di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Pasalnya, garam langka berbuntut kebijakan importasi. Sebaliknya penyerapan garam di Pulau Madura tak maksimal.

Ubaidillah, petani garam di Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget, Sumenep, menduga ada sisi politis di isu kelangkaan garam. Sedianya, bila stok garam menipis, pemerintah harusnya menyerap persediaan di Sumenep.

"Tapi yang terjadi sebaliknya, garam menumpuk berton-ton saat beredar informasi kelangkaan garam. Sehingga isu itu membuat petani garam merugi," kata Ubaidillah ditemui di Desa Pinggir Papas, Minggu 3 September 2017.

Ubaidillah berharap pemerintah turun tangan. Sehingga petani bisa merasakan hasil kucuran keringat menggarap lahan garam. 

Saat ini, ujarnya, harga garam KW 1 yaitu Rp1,2 juta per ton. Sedangkan garam jenis KW 2 yaitu Rp1 juta per ton. Harga tersebut jauh dari tujuan menyejahterakan masyarakat.

Petani garam bisa hidup sejahtera bila harga jenis KW 1 yaitu Rp2,5 juta per ton. Sedangkan harga garam KW 2 sedianya Rp2 juta. Lalu garam KW 3 harusnya dihargai Rp1,2 juta.

Ubaidillah juga menunggu janji Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf alias Gus Ipul. Beberapa hari lalu, Gus Ipul berjanji menyampaikan aspirasi petani kepada pemerintah pusat.

“Sudah terlalu lama kita menunggu masalah garam Tanah Air bisa selesai dan swasembada,” jelas Gus Ipul saat berkunjung ke Sumenep beberapa hari lalu. 

Gus Ipul melanjutkan, pemerintah sebenarnya menyiapkan langkah untuk mengatasi persoalan garam, yaitu akan menghadirkan sistem produksi yang lebih modern. Jika itu terealisasi, maka produksi garam akan lebih efisien, dan keuntungan dipastikan akan meningkat. Sebab itu, dia berharap langkah tersebut disambut baik pemerintah daerah dan petani garam


(RRN)