Bea Sekolah Anak Korban Gempa Palu Ditanggung Pesantren

Rahmatullah    •    Rabu, 03 Oct 2018 15:26 WIB
Gempa Donggala
Bea Sekolah Anak Korban Gempa Palu Ditanggung Pesantren
Anggota tim penyelamat dari Manggala Agni mencari korban gempa dan tsunami di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja)

Sumenep: Pasangan suami istri Suhairi dan Hamidah, asal Pulau Raas, Sumenep, Jawa Timur, tewas dalam bencana gempa di Palu, Sulawesi Tengah. Keduanya meninggalkan dua anak. Satu di antaranya sedang belajar di Pesantren Sirajul Akhyar Desa Alas Malang, Kecamatan/Pulau Raas. 

Pengasuh Pesantren Sirajul Akhyar Zainul Mujib memastikan menanggung semua biaya hidup anak tersebut. “Yang nyantri di pondok saya, yang lebih tua. Sekarang sudah Madrasah Aliyah, sementara adiknya masih SMP,” kata Zainul, Selasa, 2 Oktober 2018.

Zainul menuturkan pesantren sudah menghubungi pihak keluarga soal biaya hidup dan pendidikan anak tersebut. Zainul mengaku iba melihat anak itu karena syok mendengar kabar orang tuanya meninggal akibat diterjang tsunami.
 
Baca: Pasutri Sumenep jadi Korban Tewas Tsunami di Palu

Zainul bilang, anak tersebut sempat putus asa setelah mendengar orang tuanya meninggal. Dia sempat bilang ke teman-temannya untuk berhenti  bersekolah karena merasa sudah tidak ada yang akan membiayainya selama di pondok. Dengan pertimbangan itulah, pesantren langsung mengambil kebijakan menanggung semua biaya hidup dan pendidikan anak tersebut.

Zainul juga memastikan anak kedua pasutri itu akan ditanggung jika sekolah di pesantren. Saat ini anak tersebut masih menempuh pendidikan SMP di rumahnya di Desa Tonduk, Kecamatan/ Pulau Raas.

Selain itu, Zainul mengaku sudah menghubungi anggota DPRD Sumenep dari kepulauan. Dia berharap keluarga korban bencana di Palu itu mendapatkan santunan. Dia juga berharap warga Pulau Raas lainnya di Palu selamat. Sebab, masih ada ratusan jiwa warga pulau tersebut sedang mencari nafkah di Palu.


(ALB)