KPK Geledah Rumah Dua Calon Wali Kota Malang

Daviq Umar Al Faruq    •    Selasa, 20 Mar 2018 19:08 WIB
kasus korupsi
KPK Geledah Rumah Dua Calon Wali Kota Malang
Suasana rumah Calon Wali Kota Malang Ya'qud Ananda Gudban di Jalan Ijen nomor 73 Kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen Kota Malang saat digeledah KPK, Selasa 20 Maret 2018.

Malang: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah rumah milik dua Calon Wali Kota Malang 2018 terkait dugaan kasus suap pengesahan APBD Perubahan Tahun Anggaran 2015, Selasa, 20 Maret 2018. Calon wali kota tersebut adalah Moch Anton dan Ya'qud Ananda Gudban.

Komisi antirasuah menggeledah rumah Anton di Jalan Telaga Indah RT 03 RW 01, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang pukul 12.30 WIB. Penggeledahan berakhir pada pukul 15.00 WIB.

Setelah Anton, KPK kemudian menggeledah rumah Nanda (sapaan akrab Ya'qud Ananda Gudban) di Jalan Ijen nomor 73 Kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen Kota Malang pukul 15.30 WIB. Penggeledahan berlangsung selama kurang lebih satu jam.

Adik ipar Nanda, Anugrah, membenarkan penggeledahan KPK di rumah Nanda. "Saya kaget waktu datang ke rumah tiba-tiba ada penyidik KPK. Kebetulan Bu Nanda dan suaminya sedang di Jakarta," katanya kepada Medcom.id usai penggeledahan.

Dia mengaku ikut menyaksikan penggeledahan secara langsung bersama penghuni rumah lainnya. "KPK langsung menggeledah kamar pribadi Bu Nanda selama satu jam. Tidak ada yang dibawa. Saya sudah tanda tangani surat kedatangan KPK juga," jelasnya.

Pada Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang 2018, Moch Anton bersama Syamsul Mahmud merupakan pasangan nomor urut dua yang didukung PKB, Gerindra, dan PKS.

Sedangkan Nanda bersama Ahmad Wanedi adalah pasangan nomor urut satu dari koalisi PDIP, PPP, PAN, Hanura, dan NasDem.

Kasus ini bergulir saat Anton masih menjabat sebagai Wali Kota Malang. Nanda masih menjabat sebagai anggota DPRD Kota Malang.

Salah seorang warga, Fajar Sapudjaid, mengaku penasaran dengan proses penggeledahan rumah Nanda. "Saya tadi baca di koran, salah satu calon dijadikan tersangka," katanya saat melintas di depan rumah Nanda usai pulang kerja.

Fajar mengaku prihatin dengan adanya dugaan kasus korupsi yang menjerat calon wali kota. "Saya sebenarnya sudah punya pilihan calon wali kota. Tapi setelah tahu ada kasus kayak begini saya jadi enggak punya pilihan," tutupnya.


(ALB)