Tapal Kuda di Jatim Terparah Difteri

Amaluddin    •    Jumat, 08 Dec 2017 18:46 WIB
klb difteri
Tapal Kuda di Jatim Terparah Difteri
Perawat mengunakan baju steril saat akan melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang diduga terkena virus difteri -- ANT/Muhammad Adimaja

Surabaya: Sebanyak 318 kasus difteri dan 12 anak meninggal di Jawa Timur sepanjang 2017. Daerah Tapal Kuda yang terdiri dari Kabupaten Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi, merupakan daerah terparah.

“Di daerah tersebut hambatannya karena keterbatasan pengetahuan warga soal imunisasi, sehingga agak sulit untuk menanggulagi difteri,” kata Dokter Spesialis Anak dari RSUD dr Soetomo Surabaya, Agus Hariyanto, dikonfirmasi, Jumat, 8 Desember 2017.

Menurut Agus, mayoritas warga di kawasan Tapal Kuda menganggap semua jenis pemberian vaksin atau imunisasi haram hukumnya. Sebab, mereka menganggap bahan untuk imunisasi mengandung babi.

Padahal, lanjut Agus, pencegahan difteri pada dasarnya dapat dilakukan dengan vaksinasi. Program Pemerintah itu pun sudah dilakukan secara rutin dan murah.

“Sayangnya banyak kalangan antipati vaksinasi dengan berbagai alasan. Kenapa angka kasus difteri di Jatim masih tinggi? Karena banyak yang tidak mau divaksinasi. Ada yang bilang mengandung babi. Padahal itu tidak betul. Tapal Kuda tidak mau vaksinasi,” ujarnya.

Agus berharap masyarakat berupaya mencegah difteri. Sebab, pengobatan kasus difteri membutuhkan biaya yang tidak sedikit, baik itu untuk obat maupun perawatan di ruang isolasi.

"Sebaiknya masyarakat melakukan vaksinasi. Bisa datang ke puskesmas, gratis. Kemudian pada Februari-Agustus mendatang akan ada BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah)," ujar Agus.

Agus pun mendesak pemerintah melalui Dinas Kesehatan gencar melakukukan sosialisasi pentingnya vaksinasi. Bila perlu, itu dilakukan hingga lingkup sekolah. 

"Kita imbau anak-anak yang masuk sekolah punya kartu vaksinasi. Kalau tidak punya, maka harus dirujuk ke puskesmas untuk mendapatkan vaksinasi sehingga penyakit difteri tidak terjangkit,” katanya.


(ALB)