Polda: Karnaval di Probolinggo Bukan Simbol Radikalisme

Amaluddin, Daviq Umar Al Faruq    •    Senin, 20 Aug 2018 17:38 WIB
radikalisme
Polda: Karnaval di Probolinggo Bukan Simbol Radikalisme
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, Medcom.id Amaluddin.

Surabaya: Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur angkat bicara soal karnaval di Kota Probolinggo pada Hari Ulang Tahun ke-73 Republik Indonesia baru-baru ini. Pada acara tersebut, siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK) menggunakan seragam serba hitam dengan bercadar.

"Dalam karnaval itu tidak ada maksud mengarah kepada simbol radikalisme atau teroris, mereka ingin menanamkan keimanan kepada murid-muridnya," kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, dikonfirmasi, Senin, 20 Agustus 2018. Barung berharap karnaval di Kota Probolinggo yang sempat viral di media sosial (sosmed) tidak diperpanjang. Sebab, pihak sekolah, panitia sudah mengklarifikasi perihal tersebut. 

"Kepala Sekolah TK Kartika V-69, Ibu Hartatik, juga telah meminta maaf kepada masyarakat atas kegiatan tersebut," katanya.

Kata Barung, penggunaan atribut peserta pawai budaya dengan menggunakan cadar hitam disertai dengan mainan senjata api, merupakan ide atau tema dari TK Kartika V-69 Probolinggo itu sendiri. 

Meski demikian, Barung menegaskan bahwa pihak sekolah selaku penanggung jawab karnaval, sama sekali tidak memiliki maksud untuk mendukung atau mengarahkan anak didiknya terhadap kelompok radikal (terorisme) atau kelompok tertentu. 

"Maksud dari mereka merefleksikan perjuangan Rosulullah, sama sekali tidak ada maksud mengarah kepada simbol radikalisme," katanya.

Ia berharap masyarakat tetap tenang. Ia juga mengingatkan agar masyarakat berfikir positif setiap menyikapi masalah-masalah di media sosial. "Kepada masyarakat, kami himbau agar selali positif dalam menyikapi permasalahan khususnya yang tersebar di medsos," kata Barung.

Panitia Minta Maaf

Kepala PAUD di Kota Probolinggo Hartatik menjelaskan penggunaan kostum anak-anak didiknya tersebut tidak bertujuan untuk mendukung, maupun mengarah ke salah satu kelompok radikal tertentu. 

“Penggunaan atribut itu merefleksikan perjuangan Rasulullah, dan tidak ada maksud mengarah ke simbol-simbol radikalisme,” kata Hartatik melalui keterangan resminya.

Bahkan, Hartatik menilai jika video yang beredar di media sosial tersebut, tak menampilkan secara utuh pawai karnaval Paud se-Kota Probolinggo yang berlangsung hari Jumat, 17 Agustus 2018, kemarin.

“Beredarnya video itu, hanyalah potongan saja dari rangkaian kegiatan, sehingga tidak terlihat adanya pawai-pawai lainnya yang belum terekam secara utuh,” jelasnya. 

“Di dalam video sebenarnya, kita juga menampilkan ornamen Ka’bah yang merupakan simbol kokohnya keimanan yang dimiliki oleh Rasulullah SAW. Replika senjata itu, juga sudah pernah digunakan pada karnaval tahun-tahun sebelumnya,” tambahnya.

Panitia penyelenggara karnaval PAUD se-Kota Probolinggo, Ruspini mengakui jika dirinya kecolongan dengan adanya peserta yang menggunakan kostum hitam bercadar dalam pawai tersebut.

Menurut Ruspini, minimnya petugas yang melakukan pengecekan terhadap setiap kostum yang akan digunakan para peserta pawai, juga menjadi kendala dalam event pawai peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-73 tahun, kemarin.

“Kekurangan ini, akan di jadikan koreksi untuk penyelenggaraan kedepannya supaya lebih baik. Saya akui jika panitia juga lalai dalam melaksanakan kontrol dan pengecekan,” urainya.



(ALB)