Ketika Pendidikan Terhalang Kemampuan Ekonomi

Syaikhul Hadi    •    Senin, 07 Aug 2017 12:53 WIB
pendidikan
Ketika Pendidikan Terhalang Kemampuan Ekonomi
Silan saat bermain dengan temannya -- MTVN/Syaikhul Hadi

Metrotvnews.com, Sidoarjo: Nursilan harus menerima nasib sejak usianya masih belia. Bocah 12 tahun itu terpaksa meninggalkan bangku sekolah sejak kelas 1 SD karena keterbatasan ekonomi.

Silan, begitu ia biasa disapa. Sejak kecil, Silan tidak merasakan kasih kasih sayang orang tuanya secara lenngkap. Susin, ibu Silan, dan Sarianto, ayah Silan, memutuskan berpisah.

"Seingat saya, orang tuanya berpisah ketika Silan masih berumur satu tahun," kata Poni, 54, kerabat Silan di kediamannya, Desa Bulang, Kecamatan Prambon, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin 7 Agustus 2017.

Sejak perpisahan itu, Silan dirawat ibunya bersama dengan kakeknya di gubuk berukuran 4 meter x 6 meter. Jauh dari kata layak.

Sehari-hari, ibu Silan bekerja sebagai buruh pengupas bawang merah dan putih di Desa Tanjung Anom. Sedangkan, kakek Silan bekerja sebagai juru kunci makam di Desa Bulang.

Menurut Poni, pendapatan ibu dan kakek Silan hanya cukup untuk makan dan sekadar hidup. Tidak ada biaya untuk Nursilan bersekolah.

"Karena tidak mampu, akhirnya Silan berhenti sekolah. Sampai sekarang tidak sekolah," ujarnya.

Silan biasa mengisi waktunya dengan bermain bersama teman-temannya. Ia mengaku tidak bisa membaca dan menulis.

"Inginnya sekolah, biar sama dengan teman-teman," kata Silan.

Namun, apa daya, penghasilan ibu dan kakeknya kadang tak cukup hanya untuk kebutuhan sehari-sehari. Ketika ibunya pulang tak membawa uang, mereka harus rela menahan lapar.

"Kadang sehari makan tiga kali, kadang dua kali. Sering juga tidak makan, karena tidak ada yang dimasak," pungkasnya.

(Baca: Ironi Rencana Pemkab Sidoarjo Membangun Gedung 17 Lantai)

Kehidupan keluarga SIlan ini ironis jika dibandingkan dengan rencana Pemkab Sidoarjo membangun gedung terpadu berlantai 17. Pembangunan gedung dianggarkan mencapai Rp800 miliar.

Rencana pembangunan gedung 17 lantai itu sudah muncul sejak 2016. Namun, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menolaknya dengan alasan efisiensi anggaran sesuai instruksi Presiden Joko Widodo.

Seolah `ngotot`, Pemkab Sidoarjo kembali mengajukan permohonan pembangunan gedung tahun ini. Mereka berharap, gedung terpadu tersebut bisa terealisasi.


(NIN)