Pemimpin Padepokan Bunuh Pengikut sebelum Ungkap Praktik Penipuan

Muhammad Khoirur Rosyid    •    Jumat, 23 Sep 2016 15:39 WIB
pembunuhan
Pemimpin Padepokan Bunuh Pengikut sebelum Ungkap Praktik Penipuan
Suasana di depan Padepokan Dimas Kanjeng saat polisi hendak menangkap pimpinan diduga otak pembunuhan, Metrotv - Rudi Ulhaq

Metrotvnews.com, Surabaya: Polda Jawa Timur menyelidiki pembunuhan terhadap dua murid Padepokan Kanjeng Dimas, Probolinggo. Motif pembunuhan yaitu kedua korban berniat mengungkapkan praktik penipuan di padepokan tersebut.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan kedua korban bernama Abdul Ghani dan Ismail. Keduanya dinilai melenceng dari ajaran.

Penyidik mengungkap pimpinan padepokan Taat Pribadi sebagai otak pembunuhan. Taat menilai keduanya membahayakan padepokan sehingga harus menghabisi nyawa mereka.

"Pimpinan padepokan mendapat info kedua korban akan membongkar kegiatan padepokan, sehingga harus dihabisi," kata Argo di Surabaya, Jumat (23/9/2016).


(Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Argo Yuwono, Metrotv - Rudi Ulhaq)

Argo mengatakan penyidik menduga 10 orang terlibat dalam pembunuhan itu. Caranya yaitu mereka menjebak kedua korban. Mereka memanggil kedua korban ke Dusun Sumber Cengkelek, Probolinggo.

Begitu tiba di padepokan, mereka disiksa. Hingga akhirnya mereka tewas di sebuah ruangan.

"Korban disiksa dan dijerat lehernya hingga meninggal," kata Argo.

Setelah itu, pelaku membuang salah satu korban di wilayah Wonogiri, Jawa Tengah. Seorang lain dibuang di perbatasan Probolinggo-Bondowoso. Jasad kedua korban ditemukan warga lalu dilaporkan ke polisi.

Kemudian, lanjut Argo, Polda Jateng berkoordinasi dengan Polres Probolinggo. Setelah itu, pencocokan data dilakukan.

Argo mengatakan penyidik telah memanggil Taat terkait kasus pembunuhan yang terjadi di padepokannya. Pemanggilan dilakukan tiga kali. Namun Taat tak pernah datang dengan alasan sakit.

"Pelaku mengirim surat sakit dari dokter, namun surat itu ternyata palsu. Sehingga tersangka kami jemput paksa," kata Argo.

Lalu pada Kamis 22 September, lebih 1.000 polisi mendatangi padepokan. Polisi bersenjata lengkap. Polda juga menurunkan barakuda dan watercannon untuk menangkap Taat. Pengamanan itu bertujuan mengantisipasi perlawanan yang dikhawatirkan dilakukan oleh pengikut Taat.

Baca: Seribu Polisi dan Barakuda Dikerahkan Tangkap Pimpinan Padepokan di Probolinggo

Tak lama kemudian, polisi dapat membekuk Taat. Polisi menggelandang Taat ke Polda Jatim yang bermarkas di Kota Surabaya. Proses penyidikan pun terus berlangsung.


(RRN)