Sang Maestro Lukis Tunadaksa

Sukses Berawal dari Asosiasi Komersil

Daviq Umar Al Faruq    •    Rabu, 17 Oct 2018 20:30 WIB
kisah inspiratif
Sukses Berawal dari Asosiasi Komersil
Sadikin Pard, pelukis tunadaksa, saat melukis di padepokannya, Selasa 16 Oktober 2018. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq

Malang: Sadikin Pard, sang pelukis tunadaksa, awalnya mulai menekuni dunia lukis sejak bergabung dengan The Association of Mouth and Foot Painting Artists of the World (AMFPA) pada 1989 silam. Saat itu, Sadikin masih kuliah semester 3 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

"Saat itu saya membaca di koran ada pelukis bernama Patricia Saerang. Setelah melihat itu saya kemudian mencoba mendaftar AMFPA dan ternyata diterima," ujarnya di kediamannya, Jalan Selat Sunda, Sawojajar, Kota Malang, Jawa Timur, Selasa, 16 Oktober 2018.

Siapa saja bisa menjadi anggota AMFPA asalkan bisa melukis dengan mulut atau kaki karena tangannya tak berfungsi. Hanya saja, hasil lukisan yang dihasilkan harus memenuhi standar atau minimal sejajar dengan hasil karya pelukis tangan.

Hasil karya para pelukis AMFPA kemudian direproduksi dalam bentuk kartu ucapan, kalender, kertas kado, pembatas buku, dan lain-lain. Honor bulanan para anggota AMFPA dibayarkan dari hasil penjualan karya reproduksi tersebut.

"AMFPA ini asosiasi komersil, jadi kalau tidak punya kualitas tidak bisa masuk. Dari sana saya setiap bulan dapat honor. Uang itu yang saya buat biaya kuliah, hidup dan menyokong orang tua saya saat itu," bebernya.

Keanggotaan AMFPA dibagi menjadi tiga jenjang, yakni Student Member, Associate Member, dan Full Member. Sejak 2013 lalu, Sadikin terdaftar sebagai Associate Member. Setiap tahunnya, dia diwajibkan mengirim 15 karya kepada AMFPA.

"Tema bebas yang penting kualitas, ukuran tidak ada masalah. Gaji pertama saya tahun 1989 dulu setara Rp300 ribu. Semenjak gabung AMFPA saya sering keluar negeri, konferensi sama pameran," ungkapnya.

Hampir dapat dikatakan, Sadikin sudah keliling dunia dengan karyanya. Namun, akibat sering ke luar negeri, kuliahnya pun menjadi terbengkalai hingha dia pun kemudian memutuskan untuk tak melanjutkan studinya.

"Tahun 1991 sering keluar negeri kuliah terbengkalai, dan saya akhirnya memutuskan diri keluar. Tapi nyeselnya sekarang, nggak punya title sarjana," tukasnya.

Bersambung ke: Inspirasi Datang dari Sang Ibu


 


(SUR)