600 Hektare Lahan Pertanian Dirusak Gas Beracun Gunung Ijen

Kusbandono    •    Senin, 26 Mar 2018 15:42 WIB
gas beracungunung ijen
600 Hektare Lahan Pertanian Dirusak Gas Beracun Gunung Ijen
Penambang belerang di kawah Gunung Ijen. (MI/Ramdani)

Jember: Dampak gas beracun kawah Gunung Ijen, Bondowoso, Jawa Timur, tak hanya mengancam manusia di sekitarnya. Ratusan hektare lahan pertanian terancam gagal panen terkena dampak gas Gunung Ijen.

Kepala Sub Seksi (KSS) Komunikasi Perusahaan dan Kelola Sosial (KPKS) Perhutani KPH Bondowoso, Suharto, menjelaskan, ada 1.700-an hektare lahan pertanian berada di lereng Gunung Ijen. Area itu masuk dalam pengelolaan Perhutani.

"Lahan tersebut digarap oleh petani setempat. Sistemnya bagi hasil," kata Suharto kepada Medcom.id, Senin, 26 Maret 2018.

Lahan yang digarap warga itu terletak di antara kawasan PTPN XII dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Suharto mengatakan sedikitnya 600 hektare lahan pertanian rusak akibat gas beracun.

"Luasnya sekitar 600 hektare yang kena dampaknya." tambah Suharto.

(Baca: Gunung Ijen 3 `Batuk` Sebelum Semburkan Gas Beracun)

Sebelumnya letupan gas beracun terjadi pada Rabu 21 Maret 2018 sekitar pukul 19.00 WIB. Kesehatan puluhan warga Margahayu dan Watucapil, Bondowoso, yang berjarak sekitar 7 kilometer dari kawah terdampak. Mereka lemas dan muntah-muntah. Sebagian di antaranya pingsan.

Jalur pendakian ke kawah ditutup. Warga atau penambang dilarang beraktivitas di sekitar kawah. Letupan terjadi karena perbedaan suhu di musim hujan.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ijen, Bambang Heri Purwanto, menyatakan gas beracun di Kawah Ijen sangat berbahaya. "Setiap tahun, gas beracun itu muncul saat intensitas hujan tinggi. Suhu dingin bertemu dengan panas dan menyebabkan letupan," pungkas Suharto.

(Baca: Puluhan Warga Keracunan Gas Gunung Kawah Ijen)


(SUR)