Kasus Difteri di Jatim Menurun di 2017

Amaluddin    •    Rabu, 06 Dec 2017 13:40 WIB
klb difteri
Kasus Difteri di Jatim Menurun di 2017
Seorang tenaga medis memberikan imunisasi Dipteri Tetanus. Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto

Surabaya: Difteri merupakan infeksi yang umumnya menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Di Jawa Timur sepanjang 2017 ada sebanyak 318 kasus difteri, di antaranya 12 anak meninggal. Jumlah itu menurun dari tahun 2016, sebanyak 352 kasus dengan 7 meninggal.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim Kohar Hari Santoso mengatakan, 24 dari 318 kasus difteri diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Sedangkan 294 kasus sisanya adalah kebanyakan kasus klinis (probable) atau belum positif difteri. Namun begitu, Kohar bilang, penanganannya sama dengan yang sudah positif karena gejalanya sudah muncul. 

“Jadi jumlah kasus difteri di Jatim mulai Januari sampai 4 Desember 2017, sebanyak 318 kasus,” kata Kohar dikonfirmasi, Rabu, 6 Desember 2017.

Baca: Difteri Bisa Menyumbat Jalan Napas

Kohar menjelaskan, difteri adalah penyakit yang ditandai dengan panas 38 celsius, disertai adanya selaput tipis keabu-abuan pada tenggorokan yang tak mudah lepas dan mudah berdarah. Penyakit ini disebabkan bakterium difteri dan bisa menyebabkan kematian jika tidak mendapatkan penanganan segera.

“Kebanyakan penyakit tersebut dialami oleh anak-anak yang belum mendapatkan vaksin difteri. Di Jatim, semua kasus terjadi pada usia dibawah 15 tahun,” katanya.

Menurut Kohar, penyebab tingginya jumlah kasus difteri karena masih ada populasi anak yang rentan, dan tidak mau diberi imunisasi 
Difteria, Pertussis dan Tetanus (DPT HLB), utamanya anak usia 1 th (tiga dosis/kali) dan usia 1-2 tahun (satu dosis), kemudian kelas 1 dan 2 SD serta kelas 5 SD masing-masing satu dosis. “Itu merupakan kegiatan rutinitas bulanan,” ujarnya.

Untuk mewaspadai kasus difteri itu, Dinkes pun mengaku telah melakukan beberapa langkah. Di antaranya, Dinkes Jatim bersama Dinkes di daerah melakukan penyelidikan epidemiologi bila menemukan ada kasus difteri baru.

Penyelidikan Epidemiologi ini, lanjut Kohar, guna mengetahui jumlah atau banyaknya kasus difteri pada kontak erat, sebaran kasus dan faktor-faktor penyebab penularan serta menetapkan masuk dalam KLB apa tidak. 

Selain itu, Dinkes juga merumuskan langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan KLB. Dinkes Jatim juga melakukan kegiatan imunisasi bulanan. “Kegiatan bulan akselerasi cakupan Imunisasi Difteri 7 dosis di Jatim melalui imunisasi rutin, sweeping, imunisasi lanjutan dan imunisasi di SD,” katanya.




(ALB)