Sarjana Teknik Banting Setir Jadi Petani Jambu Kristal

Daviq Umar Al Faruq    •    Selasa, 15 Jan 2019 19:32 WIB
Sosok Inspiratif
Sarjana Teknik Banting Setir Jadi Petani Jambu Kristal
Hardi, sarjana teknik, yang mengembangkan pertanian jambu kristal di Batu, Jatim, dengan penghasilan Rp1,5 juta per hari, Medcom.id - Daviq Umar

Malang: Rahmad Hardiyanto, merupakan salah satu petani yang optimistis dengan dunia pertanian. Petani asal Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, itu pun mengumpulkan pundi-pundi uang dari jambu kristal 

Hardi, sapaan akrabnya, merupakan lulusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya (UB). Ia berhasil mengembangkan dunia cocok tanam setelah memutuskan keluar dari sebuah perusahaan industri swasta. Ia banting setir dan mengembangkan jambu kristal.

Pada 2012, Hardi fokus bercocok tanam. Ia mengenal jambu kristal dari sang mertua, Imam Ghozali.

"Saya ngomong ke beliau, saya ingin jadi petani dan ternyata mendapat respon positif," kata Hardi kepada Medcom.id beberapa waktu lalu.

Bersama mertua, Hardi menanam 62 pohon jambu kristal. Enam tahun berjalan, pria usia 34 tahun itu kini memiliki 6.800 pohon yang tersebar di 12 lokasi.

Jumlah pekerjanya pun bertambah. Semula hanya dua orang. Sekarang, sebanyak 16 karyawan bekerja untuknya. Sebagian besar karyawannya berasal dari warga sekitar.

Saat merintis usaha, harga jambu kristal terbilang tinggi. Pada 2010, harganya mencapai Rp4.800 per ons. Dalam sekali panen, Hardi menghasilkan ribuan buah.

"Satu pohon bisa menghasilkan 230 buah, panennya tiga bulan sekali. Maksimal empat bulan. Setahun tiga kali panen rata-rata. Setiap hari minimal 100 kilogram jambu kristal," ungkap Hardi.

Saat ini, harga jambu kristal yaitu Rp15 ribu per Kg. Bila dalam sehari Hardi bisa menghasilkan 100 Kg jambu kristal, bisa dibayangkan berapa rupiah yang ia hasilkan. Yaitu Rp1,5 juta per hari. Bagaimana bila dalam setahun?

Keunggulan jambu kristal milik Hardi adalah ukurannya cukup besar dan tak memiliki biji. Selain di Malang, Hardi menjual produknya ke Malang, Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Hardi pun memperluas jaringannya. Ia mengajak beberapa petani untuk bermita dalam badan usahanya, Mitra Bumiaji Sejahtera. Sebanyak 21 petani bergabung.

Bukan sekadar bercocok tanam, Hardi mengarahkan mereka untuk merawat dan memanen jambu kristal.

"Mereka juga diarahkan untuk menjual, jadi marketing," terang Hardi.

Hardi juga menjual bibit hasil cangkok. Bukan bibit sembarangan. Bibit yang ia miliki telah mengantongi kompetensi pembenihan dari Dinas Pertanian Jatim.

Hardi menerangkan pohon-pohon yang ia tanam telah mengantongi sertifikasi. Tiap tahun, ia menghasilkan 10 ribu bibit cangkok. 

Harga bibit cangkok yaitu Rp30 ribu per bibit. Hardi tak melupakan petani yang bermitra dengannya. Ia tetap menyisihkan 40 persen bibit cangkok untuk petani mitra.


(RRN)