Budidaya Edelweis, Selamatkan Bunga Abadi dari Kepunahan

Daviq Umar Al Faruq    •    Sabtu, 09 Jun 2018 10:11 WIB
bunga langkakekayaan alam
Budidaya Edelweis, Selamatkan Bunga Abadi dari Kepunahan
Bunga Edelweis. Medcom.id/Daviq

Pasuruan: Bunga Edelweis atau Anaphalis Javanica adalah tumbuhan endemik yang tumbuh di kawasan pegunungan di Indonesia. Bunga ini seringkali disebut dengan bunga abadi, karena dapat mekar dalam waktu yang cukup lama. 

Edelweis pada umumnya memiliki kelopak bunga berwarna putih dan hanya mekar di bulan April hingga Agustus. Keindahan yang ditampilkannya pun membuat bunga ini sangat populer di kalangan wisatawan maupun pendaki.

Namun, meskipun dianggap lambang keabadian, keberadaan Edelweis kini terancam punah. Sebab, banyak warga lokal yang memperjualbelikannya kepada para wisatawan yang berkunjung ke kawasan pegunungan. Salah satunya di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur.

Populasi bunga ini pun semakin langka karena ulah para pendaki gunung yang tidak taat terhadap peraturan dengan memetik bunga sesuka hati. Padahal, Edelweis tengah menjadi perhatian utama pemerintah dan dilindungi oleh undang-undang.

Oleh karena itu, masyarakat Suku Tengger di lereng Gunung Bromo kini tengah berupaya untuk membudidayakan Edelweis. Salah satunya dilakukan di Dusun Wonomerto, Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Salah satu penggagas budidaya Edelweis, Kariadi, 45, mengatakan langkah budidaya ini dilakukan untuk melestarikan Edelweis. Pasalnya, bunga ini juga selalu dijadikan bahan sesaji di setiap upacara adat istiadat, seperti Leliwet, Kasada, Unan-Unan dan lain-lain.

"Edelweis dipercaya oleh masyarakat Suku Tengger sebagai wakil untuk mengantarkan doa saat upacara adat," katanya kepada Medcom.id, Sabtu, 9 Juni 2018.



Warga di Dusun Wonomerto, Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur membudidayakan Bunga Edelweis 

Dengan kata lain, kebutuhan masyarakat Suku Tengger akan bunga bernama lain Tana Layu ini pun terhitung cukup banyak. Sehingga, budidaya dinilai merupakan sebuah langkah tepat agar masyarakat dapat menggunakan Edelweis tanpa berbenturan dengan hukum.

Lewat kegelisahan tersebut, Kariadi kemudian membentuk kelompok desa bernama Komunitas Bala Daun. Mereka kemudian menggandeng Yayasan Satu Daun yang merupakan mitra dari PT Tirta Investama (Aqua) Pabrik Keboncandi untuk membudidayakan Edelweis.

Komunitas Bala Daun bersama Yayasan Satu Daun mulai menanam tumbuhan Edelweis di sekitar rumah warga dan dipinggir jalan. Penanaman ini berlangsung sejak 2014 silam. Pada awal perjalanan budidaya ini sempat tak berjalan mulus.

"Awal-awal kami menanam di pinggir jalan, besoknya selalu hilang. Saya tanam lagi, hilang lagi. Akhirnya kami meminta bantuan anggota Koramil setempat," ujar Kariadi yang juga Ketua Komunitas Bala Daun ini.

Budidaya Edelweis ini juga bukan perkara mudah. Sebab, terdapat beberapa proses yang harus dilalui serta memakan waktu yang cukup lama. Bahkan, dari 1.000 benih Edelweis yang ditanam, kira-kira hanya sekitar 300 benih saja yang berhasil tumbuh.

Namun berkat kerja keras dari sejumlah pihak, sekitar 500 tanaman Edelweis pun saat ini telah tertanam di beberapa daerah di desa tersebut. Selain itu, pada tahun ini rencananya sebanyak 3.000 benih Edelweis bakal ditanam kembali di pinggir jalan desa.

"Yayasan Satu Daun sangat membantu kami dalam budidaya Edelweis. Dulu kami pembiayaan sendiri, bibit juga cari sendiri. Kini kami mendapatkan bantuan," ungkap bapak dari tiga anak ini.

Selanjutnya, Kariadi berharap budidaya Edelweis ini nantinya dapat memunculkan sektor pariwisata baru berwawasan lingkungan. Sehingga, masyarakat desa dapat meningkatkan taraf ekonomi lewat pengelolaan kawasan konservasi tersebut.


Warga di Dusun Wonomerto, Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur membudidayakan Bunga Edelweis 


(ALB)