Kasus Investasi Yusuf Mansur Naik ke Penyidikan

Syaikhul Hadi    •    Sabtu, 09 Sep 2017 18:40 WIB
investasi
Kasus Investasi Yusuf Mansur Naik ke Penyidikan
Kuasa hukum pelapor, Sudarso Arif Bakuma. Foto: MTVN/Syaikhul Hadi

Metrotvnews.com, Surabaya: Kasus dugaan penipuan dengan terlapor Jam'an Nur Chotib Mansyur alias ustad Yusuf Mansyur naik ke tahap penyidikan. Yusuf Mansyur dilaporkan sejumlah peserta program investasi Condotel Moya Vidi ke Mapolda Jatim.

Kasubdit II Harda Bangtah, Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP  Yudhistira Midyahwan, membenarkan penyidik melanjutkan laporan yang masuk pada 15 Juni 2017 tersebut ke tahap selanjutnya.

“Benar. Sudah naik ke penyidikan. Tapi belum ada tersangka,” melalui pesan singkatnya, Sabtu 9 September 2017.

Penyidik sedang mengumpulkan dokumen dan saksi-saksi untuk memperdalam kasus ini.

Kuasa Hukum pelapor, Sudarso Arif Bakuma meyakini naiknya status penyelidikan ke penyidikan karena polisi menemukan indikasi unsur pidana di dalamnya. Dia yakin bakal ada nama yang segera jadi tersangka.

“Mungkin juga sudah ada calon tersangka, meski masih dalam laci Polda,” terang Sudarso saat di Mapolda.

Menurut pengakuannya, puluhan saksi telah diperiksa sejak 4 Agustus sampai hari ini. Para saksi korban juga sudah dipanggil, diperiksa dan di-BAP (Berita Acara Pemeriksaan). Lima orang saksi korban asal Surabaya telah diperiksa pada 22 Agustus.

“Sampai hari ini informasi yang saya dapat, orang-orang di koperasinya Yusuf Mansur (Koperasi Berjamaah) juga sudah dipanggil.  kemungkinan Yusuf Mansur juga dipanggil karena nama dia kan masuk sebagai terlapor,” katanya.

Surat perintah penyidikan (Sprindik) sudah terbit sejak 4 Agustus lalu. Arif pun menyebut, semua tinggal menunggu waktu.

Dalam program investasi Condotel Moya Vidi , terlapor menawarkan investasi berbentuk sertifikat dengan harga Rp 2,75 juta per lembar. Sertifikat disertai skema keuntungan yang dijanjikan.

Belakangan program investasi itu dialihkan untuk bisnis hotel, bukan condotel seperti yang disebutkan  dalam perjanjian. Akibatnya, para nasabah merasa tidak puas. Apalagi penyelenggara program investasi hanya memberitahukan perubahan ini melalui website.


(SUR)