Istri Guru Budi Tengah Hamil Empat Bulan

Amaluddin    •    Jumat, 02 Feb 2018 21:02 WIB
kekerasan
Istri Guru Budi Tengah Hamil Empat Bulan
Ilustrasi wanita hamil. MTVN/M Rizal

Surabaya: Malang menimpa Shinta yang tengah mengandung empat bulan. Suami Shinta, Budi Cahyono, guru di SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Madura, Jawa Timur, tewas dianiaya murid.

"Saya mengenal sosok mas Budi. Semoga almarhum diterima di sisi-Nya dan keluarga duka semoga diberi ketabahan, apalagi istri almarhum hamil empat bulan," kata Khotim, teman almarhum Budi, Jumat, 2 Februari 2018.

Khotim mengaku kenal dekat dengan Budi sejak menjadi kader Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) di Malang. Budi aktif di Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) Malang yang berada di bawah naungan organisasi HMI Cabang Malang.

"Mas Budi pendiam. Beliau sering mengisi pelatihan dan kegiatan di kelompok-kelompok teater dan grup musik di bawah naungan HMI Cabang Malang," kata Khotim.

Saat aktif di HMI Malang, Budi Cahyono juga pernah menjabat sebagai Ketua HMI Komisariat UM (Universitas Malang). Budi kemudian kembali ke kampung halamannya di Sampang, Madura, setelah lulus kuliah di Malang.

Budi kemudian mengajar sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) di SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, dengan bayaran Rp400 ribu per bulan. Setelah setahun menjadi guru, kata Khotim, Budi meminang Shinta sebagai istrinya.

"Sekarang Mba Shinta hamil empat bulan. Semoga Mba Shinta dan keluarga diberi ketabahan atas musibah ini," ujarnya.

(Baca: Guru Budi Mengabdi dengan Gaji Rp400 Ribu per Bulan)

Guru Budi menjadi korban penganiayaan muridnya berinisial HI, pada Kamis, 1 Februari 2018. Aksi kekerasan itu terjadi saat proses belajar mengajar berlangsung. Saat itu, HI tidak mendengarkan pelajaran. HI justru mengganggu teman-temannya yang tengah fokus mendengarkan pelajaran.

Melihat hal tersebut, guru Budi menegur HI. Namun HI tidak menghiraukan alias mengabaikan teguran Budi. Tak ayal, Budi pun mengambil tindakan dengan mencoret pipi HI menggunakan cat lukis.

Naas, HI tidak terima hingga akhirnya memukul Budi. Siswa di ruang kelas pun langsung beraksi untuk melerai keduanya. Setelah kejadian itu, Budi langsung ke ruang guru untuk menjelaskan duduk perkaranya kepada Kepala Sekolah, Amat.

(Baca: Siswa Penganiaya Guru Hingga Tewas Ditangkap)

Setelah mendengarkan penjelasan dan tidak melihat luka di tubuh guru Budi, Amat kemudian mempersilakan guru kesenian itu untuk pulang lebih awal.

Sesampainya di rumah, Budi tiba-tiba pingsan dan langsung dirujuk ke RS Dr Soetomo Surabaya. Hasil diagnosa dokter menyebutkan yang bersangkutan mengalami mati batang otak dan semua organ dalam sudah tidak berfungsi.

Budi dinyatakan meninggal dunia Kamis, 1 Februari 2012, sekitar pukul 21.40 WIB. Polisi kemudian mengamankan HI guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti aksi balasan dari pihak keluarga Budi. Langkah ini, menurut Barung, juga mengantisipasi HI melarikan diri untuk menghindari proses hukum.

(Baca: Siswa SMAN 1 Torjun Sempat Lerai HI yang Pukuli Gurunya)


(SUR)