Pemberian Hak Kewarganegaraan Dinilai Jalan Keluar Masalah di Rohingya

Daviq Umar Al Faruq    •    Jumat, 01 Jun 2018 23:44 WIB
rohingya
Pemberian Hak Kewarganegaraan Dinilai Jalan Keluar Masalah di Rohingya
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin. Medcom.id/Daviq Umar.

Malang: Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menyebut upaya memberi hak kewarganegaraan kepada etnis Rohingya merupakan jalan keluar masalah di Rakhine, Myanmar. Polemik yang terjadi di wilayah itu telah menimbulkan keprihatinan bagi negara di kawasan Asia Tenggara dan dunia.

"Karena itu adalah jalan keluar. Kalau itu tidak dilakukan maka masalah akan terus ada," kata Din usai mengisi ceramah di Universitas Brawijaya, Jumat, 1 Juni 2018.

Din mengaku telah menyampaikan hal itu dalam pertemuan dengan State Councillor Myanmar, Aung San Su Ki di Ibu Kota Myanmar Pyi Pyi Twa, Minggu, 25 Mei 2018.

"Saya ke Myanmar dalam delegasi tokoh-tokoh agama dunia. Saya mewakili islam. Ada perwakilan dari agama Kristen, Hindu dan Buddha," ungkapnya.

Din menceritakan, terdapat diskusi pada pertemuan tokoh-tokoh lintas agama di Myanmar itu. Dari diskusi itu, lahirlah surat terbuka kepada pemerintah dan rakyat Myanmar yang isinya tentang perdamaian.

"Ketika bertemu hari ketiga dengan State Councillor Myanmar, Aung San Su Ki saya sampaikan agar adanya perdamaian, rekonsiliasi dengan syarat mengedepankan koeksistensi atau hidup berdampingan secara damai dan common citizenship yakni dengan memberikan pengakuan kewarganegaraan kepada etnik Rohingya. Dan beliau menyambut dengan baik untuk adanya hal demikian," bebernya.

Seperti diketahui, Din hadir dalam pertemuan tersebut sebagai utusan khusus Presiden Joko Widodo untuk melakukan dialog dan kerja sama antar agama dan peradaban (UKP-DKAAP).

Selain Din, turut hadir tiga tokoh umat Buddha dunia, yakni Supreme Patriach Sri Langka, Supreme Patriach Kamboja, President of Risho Kosakai dari Jepang Rev. Niwano. Kemudian, tokoh Kristiani Eropa, Bishop Gunnar Stalsett. 

Pertemuan dihadiri pula tokoh umat Hindu dari India, Madame Vinu Aram, dan Wakil Sekjen Religions for Peace Internasional dari New York, Rev. Koichi Sugino.


(AGA)