Surabaya Membara Tidak Kerja Sama dengan Pemprov Jawa Timur

   •    Sabtu, 10 Nov 2018 10:40 WIB
Tragedi ViadukSurabaya Membara
Surabaya Membara Tidak Kerja Sama dengan Pemprov Jawa Timur
Sejumlah seniman mementaskan teatrikal pertempuran dalam drama kolosal "Surabaya Membara" di Jalan Pahlawan Surabaya, Jawa Timur. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat)

Jakarta: Kendati logo Pemerintah Provinsi Jawa Timur terpampang dalam selebaran, faktanya Drama Kolosal Surabaya Membara tidak bekerja sama dengan Pemprov Jawa Timur. Hal ini dibenarkan oleh Ketua Panitia pergelaran Surabaya Membara Taufik Hidayat. 

"Tahun ini kami tidak ada bantuan sama sekali dari luar karena ini inisiatif komunitas. Kebetulan Komunitas Surabaya Membara ingin memperkecil jumlah aktivitas yang akan kita lakukan jadi tidak semeriah dulu," ujarnya dalam Metro Pagi Primetime, Sabtu, 10 November 2018.

Tidak adanya kerja sama dengan Pemprov Jatim, kata Taufik, lantaran secara teknis komunitas memang hanya mendapatkan bantuan setiap satu tahun sekali. Tahun sebelumnya, pertunjukan serupa dibiayai oleh Pemprov Jawa Timur sehingga tahun ini penyelenggaraannya hanya atas inisiatif komunitas.

"Saya pikir saya menaati aturan jadi kami tidak meminta dukungan karena itu sesuai ketentuan yang berlaku di pemerintah," ungkapnya.

Taufik mengatakan biaya penyelenggaraan Surabaya Membara 2018 berasal dari sumbangsih anggota komunitas. Penghematan anggaran juga dilakukan dengan penggunaan properti yang sama dengan pertunjukan pada tahun sebelumnya. 

Anggaran terbesar dia akui berasal perangkat audio namun hal itu sudah ditangani. Pemilik perangkat suara ikut membantu pengadaan dan hanya mewajibkan panitia membayar dengan setengah harga. "Dan itu sangat menghemat anggaran," kata dia.

Menurut Taufik meskipun pagelaran Surabaya Membara tak didukung secara pembiayaan oleh Pemprov, namun bukan berarti penyelenggara tidak berkoordinasi. Koodinasi secara teknis tetap dilakukan sebab 'pangung' yang digunakan untuk pertunjukan adalah pelataran kantor Pemprov Jatim.

"Ini juga menjadi dasar kami memilih tempatnya di kantor gubernur karena ada sejarahnya. Selain itu memang sudah tidak ada pempat lain yang representatif dan besar kecuali di depan Jalan Pahlawan ini," pungkasnya.




(MEL)