Kemenaker Ingatkan Generasi Z Perkuat Soft Skill

Gervin Nathaniel Purba    •    Jumat, 19 Oct 2018 15:33 WIB
berita kemenaker
Kemenaker Ingatkan Generasi Z Perkuat <i>Soft Skill</i>
Direktur Bina Kelembagaan Pelatihan Kemenaker Dudung Heryadi. (Foto: Dok. Kemenaker)

Bojonegoro: Dalam menyikapi revolusi industri 4.0, seluruh pemangku kepentingan tidak boleh hanya fokus pada pengembangan kompetensi sumber daya manusia (SDM) saja. Lebih dari itu, Generasi Z (Gen Z) harus memperkuat aspek soft skill.

Soft skill merupakan kemampuan di luar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan interpersonal. Memiliki kemampuan ini akan menambah kualitas diri seseorang. 

"Selain kemampuan teknis (technical skill), hal lain yang tak kalah pentingnya diberikan kepada para tenaga kerja adalah bekal soft skill atau transversal skill," kata Direktur Bina Kelembagaan Pelatihan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Dudung Heryadi, dalam acara Kuliah Umum Generasi Z dan Revolusi Industri 4.0 di Pendopo Malowopati, Bojonegoro, Jumat, 19 September 2018.

Gen Z adalah generasi yang lahir dari 1995 hingga 2014. Gen Z menjadi topik pembicaraan dunia karena generasi ini akan mendominasi populasi manusia pada masa depan. Generasi inilah yang akan berjibaku dengan dinamika era revolusi industri 4.0.

Bloomberg of United Nation memberi label Gen Z sebagai generasi realis, inovatif, dan mandiri. Oleh karenanya, penguatan soft skill menjadi penting bagi Gen Z sebagai bekal untuk menghadapi perkembangan zaman.

Hanya saja, penanaman soft skill yang mencakup karakter inti manusia, seperti kreativitas, imaginasi, intuisi, emosi, dan etik membutuhkan waktu yang tidak singkat. "Oleh karena itu, sinergi lembaga pelatihan, BLK, dengan dunia pendidikan menjadi sangat penting dalam memastikan internalisasi soft skill," kata Dudung.

Menurut Dudung, soft skill sangat penting dikuasai Gen-Z, karena dalam laporan World Economic Forum, 80 persen skill yang diperlukan tenaga kerja untuk bisa bersaing dalam era revolusi industri 4.0 adalah penguasaan soft skill. Selebihnya, technical skill hanya berada dalam skala 12 persen.

Secara lebih rinci, tiga di antara 10 skill yang diperlukan saat ini adalah complex problem solving, critical thinking, dan creativity. "Selain soft skill, penanaman jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) dan penguasaan teknologi digital kepada para peserta pelatihan juga menjadi bagian penting dalam upaya mencetak tenaga kerja yang siap berkompetisi," katanya.


(ROS)