Seorang Penyebar Hoaks PKI di Jatim Berafiliasi MCA

Amaluddin    •    Jumat, 02 Mar 2018 17:51 WIB
ujaran kebencian
Seorang Penyebar Hoaks PKI di Jatim Berafiliasi MCA
Tim Subdit V Siber Ditreskrimsus Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur saat merilis pelaku penyebar kabar hoax soal kebangkitan PKI di Jatim. (Medcom.id/Amal).

Surabaya: Satu dari empat tersangka pelaku penyebar hoaks dan ujaran kebencian berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di Jawa Timur berafiliasi dengan Muslim Cyber Army (MCA). Dia adalah Muhammad Faisal Arifin alias Al Fadal bin Abdul Wahab alias Abu Wahab bin Suja`i asal Surabaya.

"Hanya satu orang pelaku yang berafiliasi dengan jaringan MCA," kata Wadir Reskrimsus Polda Jatim, AKBP Arman Asmara, saat jumpa pers di Mapolda Jatim, Jumat, 3 Maret 2018.

Arman mengatakan tersangka Faisal menyebarkan informasi hoaks secara sistematis melalui akun media sosial (medsos) Facebook. Pria kelahiran Bangkalan ini menyebarkan hoaks berisi provokasi kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang siap menyerang ulama di Jatim dengan dua akun Facebook-nya. 

"Kegiatan ini dilakukan sejak lama, dari tahun ke tahun. Kami juga sudah memonitornya sudah lama, dan berhasil kami ungkap pada Januari sampai Februari 2018 ini," kata Arman.

Baca: Polisi Tangkap Penyebar Isu PKI di Jatim

Hasil pelacakan tim Cyber Crime Polda Jatim, lanjut Arman, ternyata pelaku berupaya membuat wilayah Jatim tidak kondusif. Sebab, pelaku telah melakukan beberapa kegiatan provokasi terkait kebangkitan PKI seperti yang terjadi di sejumlah daerah di Jatim, yakni Lamongan, Tuban, dan Kediri.

Kronologi pelaku memiliki akun Facebook dengan nama “Itong” email bank.itong 1101@gmail.com dan akun Instagram dengan nama bang.itong.55 bergabung di medsos sejak Agustus 2017. Kemudian pada 13 Februari 2018, pelaku ini mengunggah status di akun Facebook-nya berisi ujaran kebencian.

"Modus tersangka Faisal ini, sama dengan tiga pelaku lainnya. Yakni menyebarkan konten hoaks terkait kebangkitan PKI yang siap menyerang ulama dan kyai pimpinan Pondok Pesantren di Jatim," katanya.

Saat ini, lanjut Arman, pihaknya tengah mendalami kasus tersebut, termasuk mendalami apakah kegiatan pelaku ini ada pihak yang mensuponsori atau tidak.  Pihaknya juga mendalami tiga pelaku lainnya yaitu pria berinisial RG, SFY, dan MDR.

Para pelaku dijerat dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 pasal 14 dan 15 serta Undang-Undang ITE Nomor 19 Tahun 2016, serta Pasal 45 A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat 2 Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), serta Pasal 16 juncto Pasal 4 huruf b angka 1 Undang Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Dengan dipidana penjara paling lama enam tahun dan atau denda paling banyak Rp1 miliar.


(ALB)