Terinfeksi Bakteri, 29 Kg Benih Jagung asal Thailand Dimusnahkan

Syaikhul Hadi    •    Kamis, 24 Aug 2017 17:56 WIB
sayuran
Terinfeksi Bakteri, 29 Kg Benih Jagung asal Thailand Dimusnahkan
Sebanyak 29 Kilogram benih jagung asal Thailand dimusnahkan di kantor Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya, Jalan Raya Juanda Sidoarjo, Kamis, 24 Agustus 2017

Metrotvnews.com, Sidoarjo: Sebanyak 29 Kilogram benih jagung asal Thailand dimusnahkan di kantor Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya, Jalan Raya Juanda Sidoarjo, Kamis, 24 Agustus 2017. Benih jagung itu masuk melalui Bandara Internasional Juanda sudah terinfeksi bakteri dan dimusnahkan dengan cara dibakar.

Sekretaris Badan Karantina Pertanian Sudjarwanto mengatakan, salah satu upaya pemusnahan merupakan bagian dari tindakan penegakan hukum dalam menjalankan amanah UU Nomor 16/1992 tentang karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan.

"Khususnya untuk mencegah masuknya dan tersebarnya hama penyakit Hewan karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK)," jelas Sudjarwanto, usai pemusnahan dengan didampingi Wakil Ketua Komisi IV DPR, Viva Yoga Mauladi dan Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya, Musyaffak Fauzi.

Selain melanggar UU Nomor 16/1992, impor komoditas tersebut juga melanggar PP Nomor 14 tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan serta Permentan Nomor 9/2009 tentang Persyaratan dan Tatacara Tindakan karantina tumbuhan terhadap pemasukan media Pembawa OPTK ke wilayah Indonesia.

"Setelah melewati pemeriksaan karantina, benih ini positif terjangkit Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) A-1 yakni Bakteri Pseodomonas Syringae pv syringae," jelasnya.

Sudjarwanto juga bilang, bakteri itu sangat berbahaya karena termasuk dalam penyakit yang belum ditemukan di Indonesia. 

Selain pemusnahan 29 Kilogram benih jagung berbakteri, Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya juga memusnahkan komoditas pertanian lain yang tidak dilengkapi dokumen karantina (Phytosanitary Certificate) saat proses pengiriman. Komoditas yang dimusnahkan itu disita selama kurun waktu Oktober 2016 hingga Juli 2017 itu, didominasi oleh vegetable sepeda/benih sarmyuran, bunga serta buah yang berasal dari negara Asia maupun Eropa.

"Makanya kerjasama dan koordinasi dengan PT. Pos harus ditingkatkan khususnya jasa pengiriman. Karena banyak benih atau bibit yang dikirim melalui jasa pengiriman," tegasnya.

Analisis berdasarkan risiko, benih merupakan media pembawa OPTK yang mempunyai risiko tinggi. Terutama virus atau bakteri. Meski jumlahnya sedikit, bisa berpotensi sumber penyakit dan dapat menyebar ke areal pertanaman luas. Apalagi jika penyakit yang dibawa belum ada di Indonesia.

"Bila terlanjur masuk, maka akan sulit dikendalikan," ujarnya.


(ALB)