Cara Rutan Surabaya Antisipasi Pungli

Syaikhul Hadi    •    Kamis, 11 May 2017 16:53 WIB
narkobatahanan kaburrutan
Cara Rutan Surabaya Antisipasi Pungli
Kepala Pengamanan Rutan Medaeng, Ardian Nova saat menunjukkan alat detektor Body Scanner dan X-ray. --MTVN/Syaikhul Hadi--

Metrotvnews.com, Sidoarjo: Kepala Rutan Klas I Surabaya di Medaeng Sidoarjo, Bambang Haryanto memastikan tak ada pungutan liar di lingkungan rutan. Bahkan, dirinya juga akan menjamin untuk mengambil langkah tegas jika ada petugas yang melakukan pungli. 

"Saya pastikan enggak ada. Kami sudah berkomitmen untuk menghapus itu," kata Bambang saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis, 11 Mei 2017. 

Dia menjelaskan, bahwa dirinya baru menjabat sebagai kepala Rutan Medaeng sejak Januari 2017. Bambang menegaskan akan menindak petugas yang kedapatan melakukan pungutan liar. "Selama saya di sini, hal-hal yang seperti itu pelan-pelan mulai saya hilangkan. Saya enggak menginginkan itu, masa orang sudah susah ditambah susah lagi. Apalagi disuruh membayar sewa kamar," tegasnya. 

Di samping menghilangkan kebiasaan itu, pihaknya juga menerapkan beberapa langkah antisipasi penyelundupan barang-barang elektronik maupun barang haram ke dalam rutan. 

Ada beberapa inovasi yang dilakukannya untuk mendukung langkah itu. Di antaranya alat detektor X-ray (sinar-X) dan alat pindai tubuh (body scanner) di Rutan Medaeng.

Dua alat itu dipasang di pintu masuk rutan agar terbebas dari penyelundupan barang haram ke dalam rutan. Selama ini, banyak peredaran narkoba yang bisa dikendalikan dari dalam rutan. Bahkan, tak sedikit para tahanan yang kedapatan mengantongi barang haram saat berada di rutan. 

"Melalui alat ini, barang-barang yang tersimpan di balik pakaian pun akan ketahuan. Karena sebelum pengunjung menjenguk napi, mereka akan melewati dua alat ini," ujarnya. 

Menurutnya, hampir seribuan orang setiap harinya yang berkunjung ke rutan. Masing-masing gelombang hanya dibatasi 30 menit untuk menjenguk warga binaan. Diakui, dengan adanya alat detektor ini, petugas menyita ponsel yang dibawa penjenguk.

Tidur di kamar mandi

Sejatinya, Rutan Klas I Surabaya memiliki kapasitas 800 orang. Namun, kini dihuni 2.650 warga binaan. Lebih ironis lagi, jumlah warga binaan tak sebanding dengan petugas. Jumlah petugas jaga hanya 12 orang per shift. Setiap hari ada sekitar empat shift.

"Kapasitas tahanan hanya 800 an orang. Sedangkan jumlah napi ribuan. Ada sekitar 10 blok. Masing masing blok berisi 20-an kamar. Karena kurangnya tempat, masing-masing blok diisi 250-300 orang. Cukup berdesakan," tegasnya. 

Bambang mengatakan, warga binaan sudah terbiasa tidur berdesakan. Terkadang, mereka juga tak tidur semalaman lantaran tak mendapati tempat. Ada juga yang terpaksa tidur di area kamar mandi. Bahkan tak jarang juga tidur di lorong-lorong.

Sempitnya tempat juga kerap membuat warga binaan terlibat keributan kecil. "Persoalannya sepele. Tapi cepat kita atasi. Kita panggil mereka, kita selesaikan. Lagi-lagi, karena saat tidur dia kesenggol atau seperti apa. Intinya, kami di sini hanya menjalankan tugas, kami enggak mempunyai wewenang untuk penambahan gedung dan lain-lain," pungkasnya. 


(ALB)