Ketua Panpel Arema FC Diperiksa KPK

Daviq Umar Al Faruq    •    Kamis, 29 Nov 2018 16:15 WIB
kasus suap
Ketua Panpel Arema FC Diperiksa KPK
Suasana di Polres Malang saat KPK memeriksa sejumlah orang terkait kasus suap yang menjerat Bupati Rendra Kresna, Kamis, 29 November 2018, Medcom.id - Daviq Umar

Malang: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan Arema FC Abdul Harris di Malang, Jawa Timur. Pemeriksaan terkait dugaan suap dan gratifikasi yang menyeret Bupati nonaktif Malang Rendra Kresna sebagai tersangka.

Pemeriksaan berlangsung di Polres Malang Kota, Kamis, 29 November 2018. Harris juga menjabat Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Malang.

Haris mengaku tak tahu alasan KPK memeriksanya. Namun, ujarnya, ia menjawab beberapa pertanyaan seputar kegiatan di Dispora Kabupaten Malang.

"Semua dimintai informasi keterangan yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan Dispora mungkin ada kaitannya dengan Pak Bupati," ungkap Haris.

Kamis 11 Oktober 2018, KPK menetapkan Bupati Malang Rendra Kresna (RK) sebagai tersangka dalam kasus gratifikasi dan suap penyediaan sarana penunjang peningkatan mutu pedidikan pada Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. 

Selain Rendra, KPK juga menetapkan pihak swasta, Ali Murtopo (AM) dan Eryk Armando Talla (EAT) sebagai tersangka. Haris mengaku tidak dimintai keterangan soal hubungan dirinya dengan kedua pihak swasta tersebut.

"Enggak ada hubungan. Hanya kegiatan ya Dispora, kan ada bina desa dan ada apa itu ya ada KONI ya itulah diantaranya kegiatan," pungkasnya.

Pantauan Medcom.id, selain Haris, KPK juga memeriksa sejumlah pejabat Pemkab Malang. Mulai dari Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPUSDA) Avicenna Medisica Sani; Sekretaris Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) M Imron; Kabid Bina Manfaat pada DPUSDA, M Fauzi dan Kabid Pemeliharaan DPUBM, Suwignyo.

Pemeriksaan lanjutan KPK ini adalah agenda ke empat dalam minggu ini. Penyidik lembaga antirasuah ini telah memeriksa sejumlah saksi mulai dari Aparatur Sipil Negara (ASN), pensiunan hingga pengusaha dan pihak swasta sejak Senin 26 November 2018.

Selain itu, KPK menetapkan Rendra sebagai tersangka bersama pihak swasta lain, Eryk Armando Talla (EAT). Rendra dan Eryk diduga menyalahgunakan wewenang dan jabatan untuk menerima gratifikasi yang dianggap suap karena berhubungan dengan jabatannya setidak-tidaknya sampai saat ini sekitar Rp3,55 miliar.



(RRN)