Banyuwangi Deklarasikan Daerah Bebas Pasung

Amaluddin    •    Selasa, 14 Nov 2017 05:55 WIB
Banyuwangi Deklarasikan Daerah Bebas Pasung
Foto ilustrasi. (AFP/Adek Berry)

Surabaya: Bertepatan dengan Upacara Peringatan ke-53 Hari Kesehatan Nasional (HKN), Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mendeklarasikan sebagai kabupaten bebas pasung. Banyuwangi menyatakan siap melakukan langkah-langkah komprehensif penanganan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko mengatakan momen ini sangat penting, mengingat penanganan ODGJ tidaklah mudah. Menurutnya, banyak kendala yang dihadapi, mulai dari pasien, keluarga, hingga stigma lingkungan. 

"Tahun 2016 lalu masih ada 92 kasus pemasungan. Namun dengan kegigihan serta kesabaran petugas kesehatan serta kerja sama yang baik dengan keluarga ODGJ, hingga per 5 Oktober 2017 seluruh kasus tersebut berhasil dituntaskan. 92 ODGJ telah dibebaskan dari pasung," kata Yusuf, Senin 13 November 2017.

Saat ini, kata Yusuf, selain dilakukan upaya pengobatan, para petugas kesehatan juga mulai melakukan upaya pemulihan yang melibatkan berbagai pihak. Di antaranya tenaga kesehatan, Dinas Sosial, Satpol PP, dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

"Ini perlu karena selain membutuhkan pertolongan medis, pasien seringkali menghadapi tantangan sosial di masyarakat. Maka diperlukan langkah lanjut setelah menjalani serangkaian pengobatan agar minimal bisa mandiri dan diterima masyarakat lagi,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Widji Lestariono, menambahkan bahwa salah satu program yang telah dijalankan Pemkab Banyuwangi adalah Poli Kembali Sehat (Poli Kesat). Di mana puskesmas menyelenggarakan terapi kerja bagi ODGJ, mereka dilatih berbagai ketrampilan menyesuaikan minat dan kemampuan mereka. 

“Saat ini ada tiga puskesmas yang menyelenggarakan program ini,” ujarnya.

Selain itu, kata Widji, juga ada program Usaha Asuh, di mana pengusaha di sekitar wilayah puskesmas diajak bekerjasama untuk menampung ODGJ yang sudah pulih untuk bisa bekerja di tempat mereka.

"Sudah ada beberapa ODGJ yang berhasil kembali ke masyarakat setelah rutin pengobatan. Ada ODGJ di Kecamatan Kabat yang bekerja sebagai tukang parkir puskesmas. Bahkan, dia kini belajar di pondok pesantren," tandas Widji.

(DHI)