Cerita Istri Korban KM Lestari Maju Sebelum Kandas

Heri Susetyo    •    Rabu, 04 Jul 2018 17:33 WIB
Kapal Tenggelam di Selayar
Cerita Istri Korban KM Lestari Maju Sebelum Kandas
Suasana rumah duka Hari Lasmono di Sidoarjo, Jawa Timur. (MI/Heri Susetyo)

Sidoarjo: Hari Lasmono, 49, adalah salah satu korban tewas akibat kandasnya KM Lestari Maju, Hari adalah Supervisi Pamatata PT ASDP Ferry Indonesia. Dia adalah warga Blok H-7 Nomor 8 Perumahan Taman Aloha Desa Wage Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Hari meninggalkan seorang istri dan dua anak perempuan. Suasana duka pada Rabu siang tampak menyelimuti keluarga korban di rumah duka. Sejumlah kerabat dan tetangga masih terus berdatangan ke rumah duka.

Pihak keluarga mendapatkan kepastian meninggalnya Hari dari pihak PT ASDP Ferry Indonesia. Korban saat itu sebenarnya sudah berhasil menyelamatkan diri dengan memakai pelampung, namun kepalanya terbentur karang hingga tewas.

Istri korban, Eni Koestiani, 50, mengaku sempat berbincang lewat telepon sebelum kejadian kandasnya kapal. Eni mengungkap, saat itu suaminya menelepon sekitar pukul 13.00 WITA. 

Suaminya mengatakan bahwa keadaan kapal sudah terguncang hebat. Eni kemudian menelepon balik untuk menanyakan perkembangan kapal dan penumpang, namun kemudian telepon dimatikan setelah berbincang sesaat.

"Waktu saya telepon lagi, bapak bilang 'jangan telepon-telepon terus ini guncangan sudah hebat sampai mau muntah-muntah'," kata Eni menirukan suaminya.

Kakak korban, Prasetyo Raharjo mengatakan, adiknya sebelum meninggal memiliki keinginan mengumpulkan seluruh keluarga untuk bersilaturahmi pada Agustus mendatang. 

Hari adalah anak ke lima dari enam bersaudara. Namun hal itu ternyata sebuah firasat, karena seluruh keluarga saat ini sudah berkumpul saat korban meninggal dunia.

"Keinginannya terwujud di Juli, namun saat dia sudah meninggal," kata Prasetyo.

Pihak keluarga awalnya juga tidak menyangka, Hari Lasmono adalah salah satu penumpang KM Lestari Maju. Sebab biasanya Hari menggunakan kapal dinas.

Pihak keluarga juga mengapresiasi kapten nakhoda kapal yang berusaha membenturkan kapalnya ke karang agar tidak tenggelam. Namun keluarga menyayangkan, kurangnya pengarahan awak kapal ke penumpang, bagaimana cara meninggalkan kapal apabila dalam kondisi darurat.


(LDS)