Via Vallen Akui Pernah Pakai Kosmetik Oplosan

Amaluddin    •    Jumat, 21 Dec 2018 08:45 WIB
kosmetik palsu
Via Vallen Akui Pernah Pakai Kosmetik Oplosan
Penyanyi dangdut Via Vallen (kiri) usai menjalani pemeriksaa terkait kasus penjualan kosmetik oplosan di Mapolda Jatim, Kamis 20 Desember 2018, Ant - Risyal Hidayat

Surabaya: Penyanyi dangdut Via Vallen tak sekadar mempromosikan produk kosmetik oplosan. Ia juga bahkan sempat menggunakan salah satu produk kosmetik tersebut.

Via menyampaikan itu usai menjalani pemeriksaan kasus kosmetik oplosan di Mapolda Jawa Timur, di Surabaya, Kamis, 20 Desember 2018. Pemeriksaan berlangsung selama kurang lebih enam jam.

"Saya sempat pakai jenis facial wash. Karena baunya hampir sama dengan produk yang biasa saya pakai," kata Via.

Via menyesal menggunakan produk ilegal itu. Sebab, bahan pada produk tersebut berbahaya bagi kesehatan penggunanya.

"Tapi saya tidak tahu kalau kosmetik itu palsu. Kalau saya tahu, tentu saya tak akan mempromosikan dan menggunakannya," lanjut Via.

Penyanyi asal Sidoarjo itu mengaku tak mengingat berapa lama ia mempromosikan produk tersebut. Sebab, ia tak mempromosikan produk atau endorse sejak setahun lalu.

Kasubdit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Ditreskrimsus Polda Jatim, AKBP Rofiq Ripto Himawan, mengatakan penjelasan yang diberikan Via Vallen hampir sama dengan kesaksian Nella Kharisma. Pertanyaan yang dilayangkan, kata Rofiq, seputar etika penerimaan endorse, dan legalitas produk yang diendorse. 

"Jawabannya tidak jauh beda dengan jawaban Nella Kharisma," kata Rofiq.

Namun, kata Rofiq, terkait tarif endorse Via dan Nella berbeda. Via mengaku dibayar Rp7 juta untuk satu kali endorse. "Kalau jawabannya Via nenerima Rp7 juta sekali endorse, uangnya diterima melalui rekening," kata Rofiq.

Sub Direktorat Sumber Daya Lingkungan (Subdit Sumdaling) Dit Reskrimsus Polda Jatim telah mengamankan seorang tersangka berinisial KIL (26), yang merupakan perajin kosmetik kecantikan ilegal dengan merk Derma Skin Care Beauty.

"Tersangka KIL ini sudah dua tahun menjalankan praktik ini dengan omset Rp300 juta per bulan," kata Dirreskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol Ahmad Yusef Gunawan.


(RRN)