Sang Maestro Lukis Tunadaksa

Sadikin Pard, Pelukis Tunadaksa asal Malang

Daviq Umar Al Faruq    •    Rabu, 17 Oct 2018 20:29 WIB
kisah inspiratif
Sadikin Pard, Pelukis Tunadaksa asal Malang
Sadikin Pard, pelukis tunadaksa, saat melukis di padepokannya, Selasa 16 Oktober 2018. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq

Malang: Lahir dengan keterbatasan fisik tak membuat Sadikin Pard patah semangat begitu saja. Meski tak memiliki tangan, pria asal Kota Malang, Jawa Timur ini justru terus berkarya lewat lukisan hingga membuatnya diakui hingga kancah internasional.

Sadikin adalah salah satu pelukis tunadaksa ternama di Indonesia. Pria kelahiran 29 Oktober 1966 ini biasa melukis menggunakan kaki atau mulutnya. Dia mengaku mulai jatuh cinta dengan dunia lukis sejak duduk di bangku SMA.

"Saya senang melukis sejak TK. Waktu SMA saya sering dapat orderan melukis sketsa dari teman kelas. Tapi belum bercita-cita jadi pelukis saat itu," kata Sadikin di kediamannya di Jalan Selat Sunda, Sawojajar, Kota Malang, Jawa Timur, Selasa, 16 Oktober 2018.

Lulusan SMA Santa Maria Malang ini awalnya bercita-cita menjadi seorang arsitek. Namun jalan hidup membuat Sadikin harus memupuskan keinginan tersebut. Dia pun kemudian memutuskan untuk berprofesi sebagai pelukis profesional.

Bahkan, bapak dua anak ini kini mampu menghasilkan uang ratusan juta dari hasil karya lukisan. Baru-baru ini dia dikontrak seorang kolektor untuk menggambar rumahnya dengan honor Rp300 juta.

"Dia dokter spesialis kulit di Surabaya. Saya disuruh menggambar mural sebanyak enam ruangan di rumahnya, kira-kira luasnya 150 meter persegi. Saya kerjakan selama 40 hari menggambar pemandangan pedesaan, laut, romantika dan hutan," terangnya.

Sadikin adalah pelukis beraliran impresionis yang biasa menggunakan cat akrilik. Keahliannya melukis didapat secara otodidak. Dia sering kali melihat karya-karya pelukis ternama dan kemudian belajar dari situ.

"Pelukis itu tidak selamanya gembel. Apabila pelukis serius menggeluti profesinya, dia pasti bisa kaya. Seniman jangan berkecil hati. Saya saja yang tidak punya tangan bisa. Tidak ada alasan tidak bisa meraih sukses," tegasnya.

Bersambung ke: Sukses Berawal dari Asosiasi Komersil




 


(SUR)