Polres Rangkul Mantan Simpatisan HTI di Malang

Daviq Umar Al Faruq    •    Rabu, 31 Oct 2018 19:23 WIB
kedaulatan nkri
Polres Rangkul Mantan Simpatisan HTI di Malang
Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung, Medcom.id - Daviq Umar

Malang: Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung menyebutkan terdapat sebanyak 275 anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang tersebar di Kabupaten Malang. Hanya saja ratusan anggota HTI itu sudah tidak aktif lagi.

"Kegiatan mereka (HTI) kan semenjak dibubarkan pemerintah tahun 2017, mereka sudah tidak aktif. Tetapi kan eks anggota maupun simpatisan ini kan juga perlu kita rangkul juga," katanya, Rabu 31 Oktober 2018.

"Kita berikan pemahaman-pemahaman supaya kembali ke pangkuan ibu Pertiwi mengakui Pancasila UUD 45 dan tidak lagi mengusung konsep khilafah," tambahnya.

Ratusan anggota HTI itu tersebar di 8 kecamatan di Kabupaten Malang. Salah satunya di Kecamatan Pakis dan Kecamatan Gondanglegi. Usia anggotanya pun bermacam-macam.

Yade menambahkan setelah dirangkul, jumlah anggota HTI di Kabupaten Malang kini semakin berkurang menjadi di bawah 200 orang. Meski begitu, pihaknya tetap melakukan pengawasan.

"Kita bekerjasama dengan Dai Kamtibmas, tokoh-tokoh agama. Kita dialog lah untuk menyampaikan ini, tidak perlu juga kita kucilkan mereka walaupun sudah organisasi terlarang. Tetapi kita dialog," jelasnya.

"Dialog itu yang lebih efektif, jadi pola pikirnya yang diubah. Supaya tidak mengusung konsep khilafah atau mengganti dasar negara dan lain sebagainya," bebernya.

Di sisi lain, Yade mengaku berdasarkan informasi dari intelijen, HTI awalnya masuk ke salah satu perguruan tinggi di Bogor pada 1983 lalu. Organisasi tersebut awalnya masuk melalui lembaga-lembaga dakwah.

"Awalnya ya tidak menyebarkan paham-pahamnya dulu, tetapi menyampaikan konsep-konsep Islam, yang baik-baik dulu. Setelah itu dibenturkan dengan nasionalisme," terangnya.

Oleh karena itu, pihak kepolisian juga melakukan pemantauan di sejumlah perguruan tinggi di Malang. Yade pun mengaku ada beberapa universitas yang masuk ke dalam daftar pengawasan.

"Kita pantau beberapa universitas, tapi nggak etis saya sebutkan namanya disini. Kita tetap dalam pantauan beberapa universitas yang kita anggap juga warna kuning lah, itu diawasi," pungkasnya.



(RRN)