Warga Malang Diminta Berhati-hati Isu Menyesatkan

Aditya Mahatva Yodha    •    Kamis, 07 Sep 2017 13:10 WIB
hoax
Warga Malang Diminta Berhati-hati Isu Menyesatkan
Dialog lintas agama yang digelar di Ruang Sekretariat Daerah Pemkab Malang, Jawa Timur -- MTVN/Aditya Mahatva Yodha

Metrotvnews.com, Malang: Warga Kabupaten Malang, Jawa Timur, diminta berhati-hati dengan informasi yang menyesatkan atau hoax. Terlebih jika informasi tersebut mengarah kepada isu SARA.

"Jangan langsung percaya dengan berita yang diterima," kata Wakapolres Malang Kompol Decky Hermansyah saat dialog lintas agama di Ruang Sekretariat Daerah Pemkab Malang, Jalan Raden Panji, Kepanjen, Malang, Kamis 7 September 2017.

Menurut Decky, seharusnya masyarakat jeli membaca berita dan menyaring informasi yang beredar. Apalagi, kalau informasi itu menyebar lewat media sosial (medsos).

"Saat ini, banyak akun-akun yang tidak bertanggung jawab. Mereka memposting sesuatu hal yang meresahkan, bersifat tendensius, dan berpotensi memecah belah kesatuan NKRI," imbuh Decky.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Malang Umar Usman menambahkan, semestinya ada konfirmasi dan klarifikasi sebelum mempercayai suatu berita. Ini sekaligus membiasakan kita agar tidak mudah menerima berita.

"Kita harus sadar dan peka agar tidak mudah menerima berita tentang apa pun. Kita wajib untuk tabayyun (meneliti kebenaran) berita itu sebelum melakukan sesuatu," kata Umar.

Belakangan, nama organisasi Saracen mulai jadi perhatian publik setelah tiga pengurusnya, yakni MTF, SRN dan JAS dicokok tim Siber Bareskrim Polri. Mereka dijerat dengan Pasal 45A ayat 2 jo Pasal 28 ayat 22 Undnag-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-undang ITE dengan ancaman 6 tahun penjara dan/atau Pasal 45 ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 Undang-undang ITE dengan ancaman 4 tahun penjara.

Kelompok Saracen dibekuk karena menyebarkan ujaran kebencian berkonten SARA sejak November 2015. Mereka menyebarkan isu SARA melalui grup Facebook Saracen News, Saracen Cyber Team, situs Saracennews.com, dan grup lain yang menarik minat warganet.

Saracen mengunggah konten ujaran kebencian dan berbau SARA berdasarkan pesanan. Media-media yang mereka miliki, baik akun Facebook maupun situs, akan memasang berita atau konten yang tidak sesuai dengan kebenarannya, tergantung permintaan.

Para pelaku menyiapkan proposal untuk disebar kepada pemesan. Setiap proposal ditawarkan dengan harga puluhan juta rupiah. Hingga saat ini, akun yang tergabung dalam jaringan grup Saracen lebih dari 800.000 akun.


(NIN)