Kejati Jatim Bakal Buka Kembali Kasus Korupsi P2SEM

Amaluddin    •    Kamis, 30 Nov 2017 11:39 WIB
korupsikasus korupsi
Kejati Jatim Bakal Buka Kembali Kasus Korupsi P2SEM
Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jatim Didik Farkhan Alisyahdi -- medcom.id/Amaluddin

Surabaya: Kasus korupsi Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Provinsi Jawa Timur tahun anggaran 2008 tampaknya tak berhenti dengan dibekuknya Bagoes Soetjipto. Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim bakal mengembangkan kasus untuk mengungkap siapa saja pejabat yang terlibat.

Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jatim Didik Farkhan Alisyahdi mengatakan jika kasus korupsi P2SEM akan dibuka lagi. Apalagi, mantan Ketua DPRD Jatim Fathorrosyid (almarhum) pernah mengungkap sejumlah pihak yang diduga terlibat.

"Nanti tunggu sampai ada pengakuan dari Bagoes," kata Didik di Surabaya, Rabu, 29 November 2017.

Bagoes yang berprofesi sebagai dokter tersebut telah menjalani sidang secara intens sejak ditetapkan tersangka oleh Kejati Jatim pada 2009. Dia divonis 7 tahun penjara oleh PN Sidoarjo, lalu 7,5 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Surabaya, dan 7 tahun oleh PN Ponorogo. Total hukuman Bagoes mencapai 21,5 tahun.

Bagoes telah divonis 21 tahun kurungan penjara. Sebelum kabur, Bagoes pernah divonis 7 tahun penjara oleh Kejari Sidoarjo, kemudian di Ponorogo ia divonis 7 tahun, lalu di Jombang 7 tahun, Tanjung Perak Surabaya 7,6 tahun.

Terakhir pada 2011, Bagoes divonis nihil oleh Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Majelis hakim yang diketuai Gusrizal menilai, hukuman yang sudah diterimadari tiga persidangan sebelumnya melebihi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Bagoes adalah saksi kunci yang bisa membuka tabir elite siapa saja yang bakal terlibat. Namun, dokter spesialis jantung itu enggan menjawab saat awak media bertanya apakah ada pejabat atau pihak-pihak lain yang terlibat alam kasus P2SEM tahun 2008 itu.

Ia hanya berisyarat bakal mengungkap kasus yang menjeratnya. "Nanti saja, biar pihak kejaksaan yang menyampaikan," kata dia.


(NIN)