Kekerasan Anak di Surabaya Meningkat 4 Kali Lipat

Muhammad Khoirur Rosyid    •    Selasa, 22 Nov 2016 15:40 WIB
kekerasan anak
Kekerasan Anak di Surabaya Meningkat 4 Kali Lipat
Anak-anak dari keluarga tak mampu tak punya banyak fasilitas tempat bermain. Foto: Metrotvnews.com/Rosyid

Metrotvnews.com, Surabaya: Jumlah kekerasan terhadap anak di Kota Surabaya, Jawa Timur, meningkat tahun ini. Tercatat, hingga November 2016, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya menangani 66 kasus. Padahal, tahun kemarin hanya ada 15 kasus.

"Belum genap setahun, jumlahnya sudah melebihi tahun lalu," kata Kanit PPA AKP Ruthyeni, di Kota Surabaya, Selasa (22/11/2016).

Menurut Ruth, dari beberapa temuan penyidik, 99 persen kekerasan terhadap anak adalah kejahatan seksual. Banyak faktor yang memengaruhi itu. "Selain pengawasan orang tua yang kurang, anak yang mudah bergaul juga gampang diambil hatinya."

Kekerasan seksual ini banyak terjadi pada masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Sebab, anak-anak keluarga miskin kurang memiliki fasilitas bermain yang layak.

"Di Surabaya banyak perkampungan padat. Masyarakat menengah ke bawah terkadang hanya tinggal di rumah satu petak," kata dia.

Akibatnya, secara psikologis anak merasa jenuh dan berusaha mencari permainan di luar. Nah, ketika bermain di luar itu orang tua kurang memberikan pengawasan.

"Dari kasus yang kami tangani, 90 persen terjadi pada masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah," kata Ruth.

Bermain di Rel

Pantauan Metrotvnews.com di Kampung Lumumba, Kecamatan Wonokromo, perkampungan kumuh sepanjang rel kereta api di Kota Surabaya. Anak-anak umumnya bermain di sekitar rel kereta. Selain berbahaya, mereka juga terancam menjadi korban kekerasan seksual karena minimnya pengawasan.

“Setiap hari kami bermain di sini (rel kereta api),” kata Afrizal, 10.

Mereka hanya memiliki dua tempat bermain: sekolah dan perkampungan. Seperti yang terlihat siang tadi, sejumlah anak perempuan dan laki-laki bermain layang-layang. 

“Kalau jauh-jauh mainnya, nanti dimarahin Bapak,” kata Afrizal.

Firdaus, anak lainnya, mengatakan sehari-hari pergi ke sekolah. Lokasi sekolahnya tidak jauh dari tempat dia tinggal. Sepulang sekolah dia bermain dengan teman-temannya di sekitar rumah.

“Kalau sore hari biasanya mengaji,” katanya.

Handoyo, 46, salah satu warga, mengatakan, sebagai orang tua, ia tetap memberikan pengawasan terhadap anak. Baik saat anaknya bermain maupun di sekolah. Namun, dia menyadari tidak bisa sepenuhnya mengawasi anak jika sedang bekerja.

“Kalau sedang bekerja, ibunya yang mengawasi,” ujarnya.

Bapak dua anak ini tidak khawatir jika terjadi kekerasan pada anak-anaknya. Sebab, di lingkungannya, sesama warga sudah saling memahami. Semua orang tua mengawasi aktivitas anaknya.


(UWA)