Jokowi dan Prabowo Bakal Hadiri Tanwir ke-51 Muhammadiyah

Daviq Umar Al Faruq    •    Kamis, 07 Feb 2019 18:16 WIB
muhammadiyah
Jokowi dan Prabowo Bakal Hadiri Tanwir ke-51 Muhammadiyah
Haedar Nasir di Seminar Pratanwir di UMM, Kamis 7 Februari 2019.

Malang: Tanwir ke-51 Muhammadiyah bakal diselenggarakan di Bengkulu pada 15-17 Februari 2019 mendatang. Acara tahunan tersebut rencananya bakal dihadiri langsung oleh dua calon presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto.

Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan Jokowi dan Prabowo diundang sebagai tokoh bangsa. Keduanya diundang untuk berdialog sekaligus menyampaikan pikiran-pikiran kebangsaannya masing-masing.

"Tapi kita santai, kan di situ bukan pemaparan visi misi, karena kami memang bukan KPU. Jadi bukan kampanye," katanya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis 7 Februari 2019.

Haedar pun mengaku pihaknya tak bisa menepis apabila Jokowi dan Prabowo sedang berkontestasi pada Pilpres 2019. Namun keduanya tetap diundang untuk berbagi pandangan dan pengalamannya dihadapan kader Muhammadiyah.

"Karena itu kita beri kesempatan untuk berbagi pandangan, pengalaman, dengan berdialog dan kami Muhammadiyah juga akan bermartabat Tanwir itu sebagai ajang silaturahim nasional," ungkapnya.

Sebelum gelaran Tanwir, Muhammadiyah menggelar seminar Pra Tanwir di Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Solo dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

"Untuk memperoleh masukan, kita adakan empat seminar. Tanwir di Bengkulu nanti akan membahas tema utamanya beragama yang mencerahkan dalam berbagai kaitannya," bebernya.

Haedar menjelaskan ada beberapa tujuan digelarnya Tanwir. Pertama, Muhammadiyah ingin menghadirkan perspektif keagamaan yang damai, toleran, dan penuh rasa persaudaraan, serta membawa pencerahan untuk memajukan umat dan bangsa.

Kedua, agar rakyat Indonesia tidak terbawa suasana terutama di tengah tahun politik saat ini. Sebab, tahun politik berpotensi menimbulkan suasana kompetitif yang akhirnya menimbulkan gesekan satu sama lain

Ketiga, Muhammadiyah juga ingin Tanwir ini menjadi ajang untuk menjaga institusi-institusi civil society yang tetap netral dan tidak menjadi partisan. Agar bisa menjadi katub pengaman sekaligus juga mediator didalam dinamika politik kebangsaan.

"Terkahir kita berharap bahwa bangsa Indonesia yang sekarang generasi milenialnya luar biasa, mereka perlu punya harapan, perlu punya optimisme, perlu punya ruang untuk berartikulasi sebagai generasi bangsa yang baru, yang dia sebenarnya potensinya jauh lebih dari kami, tetapi kalau ruangnya sumpek, mereka tidak akan menjadi anak-anak bangsa yang unggul dan berartikulasi maju," jelasnya.

"Muhammadiyah ingin tetap merawat ini, mari ciptakan agar suasana milenial ini diberi ruang untuk punya optimisme baru dalam hidup berbangsa dan bernegara," pungkasnya.





(ALB)