Kekeringan Berkah bagi Sebagian Warga Sumenep

Rahmatullah    •    Sabtu, 16 Sep 2017 10:47 WIB
kemarau dan kekeringan
Kekeringan Berkah bagi Sebagian Warga Sumenep
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Abd. Rahman Riadi, mengaku heran saat bertemu warga yang justru berharap hujan tidak segera turun. Foto: MTVN/Rahmatullah

Metrotvnews.com, Sumenep: Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, darurat kekeringan. Tapi, tak semua warga resah. Justru ada yang menganggap kekeringan itu sebagai berkah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Abd. Rahman Riadi, mengaku heran saat bertemu warga yang justru berharap hujan tidak segera turun. Mereka adalah warga di wilayah Kecamatan Pasongsongan.

"Ketika saya turun sendiri untuk droping air, justru warga di sana berharap  tidak segera turun hujan," tuturnya, Sabtu 16 September 2017.

Wilayah utara Sumenep ini dikenal sebagai tempat produksi tembakau kualitas super. Informasinya, per 1 kilogram tembakau rata-rata bisa terjual Rp55 ribu. Padahal di daerah lain berkisar Rp40 ribu/kg.

Mereka pun tak ambil pusing saat stok air semakin mengering. "Kata mereka, urusan minum dan mandi biar ditanggung pemerintah," imbuhnya seraya tersenyum.

Sebagian desa di wilayah Kecamatan Pasongsongan, kata Rahman, memang sulit sumber air. Sumur dibor hingga puluhan meter pun tetap tak mengeluarkan air.

Ketika musim kemarau panjang, warga kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sana, pemerintah melalui BPBD memasok air.

Hingga kini, desa-desa yang mengajukan permintaan air bersih terus bertambah. Semua permintaan tersebut dipastikan Rahman akan direspon. Sebelum memasok air, petugas akan melakukan verifikasi terlebih dahulu untuk mengetahui berapa tangki air yang dibutuhkan masyarakat.

"Prediski dari otoritas terkait, kemarau akan berlangsung hingga akhir Oktober. Kita tentu berharap akhir bulan ini sudah mulai turun hujan," tandas Rahman.


(SUR)