Kekeringan di Sumenep Diprediksi Hingga Awal Oktober

Rahmatullah    •    Rabu, 30 Aug 2017 18:24 WIB
kemarau dan kekeringan
Kekeringan di Sumenep Diprediksi Hingga Awal Oktober
Ilsutrasi Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Sumenep: Bencana kekeringan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, diperkirakan akan berlangsung hingga awal Oktober 2017. Untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah terdampak kekeringan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat melakukan drop air.
 
Berdasarkan pemetaan yang dilakukan BPBD Sumenep, total jumlah rawan kekeringan terjadi di 37 desa. Sebanyak 15 desa di antaranya termasuk kering kritis, sedangkan 22 desa terkategori kering langka. Desa-desa tersebut tersebar di 13 kecamatan.
 
“Puncak kekeringan di Sumenep kemungkinan terjadi awal Oktober ini. Kita berharap setelah itu terjadi perubahan musim,” kata Kepala BPBD Sumenep, Abd. Rahman Riadi, Rabu 30 Agustus 2017.
 
Mantan Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumenep itu menyebut sudah ada 16 desa mengajukan pengiriman air bersih. Desa-desa tersebut termasuk dalam zona rawan kekeringan yang dipetakan. Sebagian besar desa di Kecamatan Batu Putih, Pasongsongan dan Rubaru itu sudah dikirim air oleh BPBD.
 

Kepala BPBD Sumenep, Abd. Rahman Riadi – MTVN/ Rahmatullah

Sebelum mendrop air, kata Rahman, BPBD melakukan verifikasi terlebih dahulu. Hal itu guna memastikan jumlah kartu keluarga (KK) yang membutuhkan bantuan air bersih. Dari hasil verifikasi itulah nanti bisa diketahui berapa tangki air yang harus didistribusikan.
 
“Drop air tentu kita harus sesuaikan dengan kebutuhan di bawah. Jika sudah habis, kita lakukan drop ulang,” terangnya.
 
Dia mengimbau warga tidak menggunakan air itu untuk keperluan pengairan, seperti menyiram tembakau. Air tersebut hanya boleh digunakan untuk masak, minum dan mencuci pakaian. Jika digunakan untuk pengairan, dia memastikan air bantuan itu tidak akan mencukupi kebutuhan.
 
“Kita berkoordinasi dengan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) dan HIPPAM (Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum) untuk mendistribusikan air. Kita bagi zona, karena kita terkendala keterbatasan armada,” tandas Rahman.
(ALB)