Makan Ikan Intersex Dikhawatirkan Berpengaruh pada Kesehatan Manusia

Syaikhul Hadi    •    Senin, 31 Jul 2017 11:36 WIB
lingkungan
Makan Ikan Intersex Dikhawatirkan Berpengaruh pada Kesehatan Manusia
Pengamat Budidaya Pengairan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, Mochsan Abrori, MTVN - Hadi

Metrotvnews.com, Sidoarjo: Sebanyak 25 persen ikan di tiga sungai di Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami intersex atau jenis kelamin yang tak menentu. Kondisi itu dikhawatirkan dapat berpengaruh pada kesehatan warga yang mengonsumsinya.

Pengamat Budidaya Pengairan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, Mochsan Abrori, meminta pemerintah segera meneliti kondisi air di tiga sungai itu. TIga sungai melintasi wilayah Kecamatan Krian, Taman, dan Balongbendo.

Baca: Ikan di Sungai Sidoarjo Alami Intersex

Mochsan mengatakan beberapa jenis ikan ditemukan di tiga sungai tersebut, misalnya nila, mujaer, gabus, dan gatul. Ikan nila, mujaer, dan gabus merupakan jenis yang paling banyak dikonsumsi.

"Lantaran sungai tercemar, masyarakat harus tahu bahaya dan dampaknya bila mengonsumsi ikan-ikan itu," kata Abrori di Kampus Poltek Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, Senin 31 Juli 2017.

Abrori mengaku sudah mendapat laporan mengenai kondisi ikan di sungai tersebut. Ia mengatakan, tak menutup kemungkinan kondisi ikan intersex juga berdampak pada manusia yang memakannya.

"Tapi saya tidak mengatakan itu langsung berdampak karena harus melalui riset dulu," lanjut Abrori.

Salah satu penyebab sungai tercemar yaitu zat dari popok yang dibuang ke sungai. Popok mengandung senyawa hormon atau Endocrine Disrupting Chemical (EDC). Senyawa itu larut dalam air.

Baca: Warga Kerap Pergoki Pengendara Buang Popok Bekas ke Sungai

EDC mengganggu pembuahan ikan yang berlangsung secara eksternal. Sperma dan telur ikan keluar. Kemudian, bercampur dengan racun dari popok yang mencemari sungai. Akibatnya, ikan baru mengalami intersex.

Abrori mengatakan tak bisa langsung menetapkan kondisi ikan intersex berpengaruh langsung pada kesehatan manusia. Perubahan ikan menjadi intersex berdasarkan kelaminnya.

"Sedangkan yang manusia makan adalah dagingnya. Tapi jangka panjang, tubuh manusia juga akan mengalami hal yang sama. Karena kandungan yang ada di dalamnya mengandung racun, termasuk logam limbah," ungkap Abrori. 

Menurut Abrori, sistem keamanan pangan dalam jangka panjang pasti terkena dampak. Itu bisa saja terjadi akibat kesalahan dalam penanganan maupun alam yang tercemar.

Abrori mengapresiasi investigasi yang dilakukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) beberapa waktu lalu. Aktivis Ecoton menemukan sampah popok di tiga sungai. Sampah itu berdampak pada kondisi ikan.

Ecoton, lanjut Abrori, sudah meneliti sampel ikan intersex. Itu bisa menjadi bukti pencemaran sungai berpengaruh pada populasi ikan. 

Sementara itu, warga mengonsumsi ikan sungai. Pemerintah harus mempertimbangkan bahaya pencemaran sungai dan menyampaikannya ke masyarakat.



(RRN)