Proyek Pembangunan SDN Wadungsari Bermasalah

Syaikhul Hadi    •    Rabu, 28 Nov 2018 23:23 WIB
pembangunan sekolah
Proyek Pembangunan SDN Wadungsari Bermasalah
Budiono, seseorang yang mengaku sebagai pemilik modal pembangunan proyek mengaku turut menjadi korban penipuan dan penggelapan Pelaksana Proyek yang memenangkan tender. Medcom.id/Syaikhul Hadi

Sidoarjo: Proyek pembangunan ruang kelas baru (RKB) SDN Wadungasri, Kecamatan Waru, di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, bermasalah. Budiono, seseorang yang mengaku sebagai pemilik modal pembangunan proyek mengaku turut menjadi korban penipuan dan penggelapan Pelaksana Proyek yang memenangkan tender.

Budiono menyebut pembangunan RKB lantai II di SDN Wadungasri dimenangkan CV Sido Rejo. Proyek ini menggunakan anggaran APBD Kabupaten Sidoarjo Tahun Anggaran 2018 dengan nilai Rp458,2 juta.

Budiono mengaku kecewa. Uang yang sudah dikeluarkannya hingga ratusan juta sampai saat ini masih belum dikembalikan pemenang tender.

"Terus terang saya kecewa, karena sampai hari ini pelaksana tidak mau bertanggung jawab dan mengganti uang yang sudah kami keluarkan," ujar Budiono yang didampingi kuasa hukumnya, Rabu, 28 November 2018.

Ia ditawari proyek dari seseorang yang bernama Muhadi yang mengaku pemilik CV Sido Rejo (pemenang tender). Dia diajak bergabung sebagai pemodal dalam pembangunan gedung tersebut pada Juni 2018.

Saat itu, Muhadi datang dengan membawa bukti gambar sebuah proyek. "Saya ditawari untuk ikut bergabung dalam hal pendanaan," cerita Budiono.

Baca: Pemasok Material Bongkar Proyek SDN Wadungsari

Pihak Budiono lalu mendatangi lokasi sekolah. Akhirnya disepakati dengan perjanjian fee 12 persen. "Bukan di sini saja, dia juga menawarkan kerja sama pada proyek pembangunan lain seperti di SD Barengkrajan (Krian), dan SD Sidorejo serta beberapa proyek penunjukan langsung (PL)," katanya.

Seiring berjalannya waktu, proyek ini tiba-tiba dipindahtangankan Muhadi ke Wahyu pemilik CV Bilqis. Setelah itu, dia sempat putus komunikasi dengan Muhadi, lantaran telepon milik Muhadi sudah tidak aktif.

"Malah saya juga datangi ke rumahnya pun, dia tidak mau menemui," terangnya.

Dalam proyek ini, ia telah mengalami kerugian uang senilai Rp610 juta. Pihaknya sudah melaporkan perihal kasus ini ke Mapolda Jatim.

"Saya ingin uang kembali. Dan menuntut mereka tanggungjawab," singkatnya.


(SUR)