Mata Kuliah Baru Jadi Senjata Tangkal Bibit Radikalisme

Syaikhul Hadi    •    Kamis, 27 Sep 2018 09:38 WIB
Pendidikan Tinggi
Mata Kuliah Baru Jadi Senjata Tangkal Bibit Radikalisme
Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Medcom.id - Hadi

Surabaya: Gerakan Islam Nusantara akan menjadi salah satu mata kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur. Pihak kampus menargetkan mata kuliah itu menjadi cara untuk menangkal bibit baru paham radikal di lingkungan kampus.

Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya Abd Halim mengatakan Gerakan Islam Nusantara merupakan mata kuliah baru. Dulu, pelajarannya kurang lebih sama dengan mata kuliah Sejarah Dakwah.

Baca: Radikalisme di Kampus Ancam NKRI

"Substansinya adalah Islam moderat," kata Halim di UIN Sunan Ampel, Rabu, 26 September 2018.

Mata kuliah baru itu menggunakan kajian kontekstual untuk mengenalkan tokoh-tokoh Islam pada mahasiswa. Tokoh-tokoh tersebut memiliki sejarah menyebarkan agama Islam Rahmatan Lil Alamin di Nusantara jauh sebelum Indonesia merdeka.

"Karena sudah banyak para kiai-kiai terdahulu yang menyebarkan Islam Rahmatan Lil Alamin, Islam moderat. Itupun jauh sebelum Indonesia merdeka," terangnya.

Metode belajarnya yaitu dengan membagi mahasiswa dalam beberapa kelompok. Mereka akan membedah pemikiran para tokoh Islam.

Menurut Halim, mata kuliah tersebut dihadirkan setelah pihak kampus melakukan riset. " Di situlah relevansinya, di Festival Hari Santri Nasional nanti kami juga akan launching Ensiklopedi dan Ulama Nusantara. Itu hasil riset kami. Diharapkan mata kuliah seperti ini bisa diterima di semua program studi," harapnya.

Baca: BNPT Beberkan Modus Penyebaran Radikalisme di Kampus

Hakim mengatakan radikalisme merupakan sebuah paham yang berbasis pada ideologi. Ideologi muncul berbarengan dengan keyakinan.

Radikalisme di negara yang sedang berkonflik, Suriah, dan Indonesia itu tidak berdiri sendiri. Paham itu berkaitan dengan dinamika politik dunia.

Pemikiran radikal mudah tersebar dengan memanfaatkan media sosial. Sayangnya, ujar Hakim, Indonesia tampak belum siap merekonstruksi ideologi Islam yang beririsan dengan ideologi negara.

"Kita baru tergagap-gagap, ternyata banyak sekali kelompok seperti itu (bibit radikal), dengan berbagai ragam. Ada kelompok ini, ada kelompok itu, dan kita pun tidak siap," tegasnya.

Mengapa?, Karena Indonesia sangat luas, baik dari kepulauan, maupun multi etnis. Tentunya untuk mengatasi persoalan-persoalan  tersebut tidaklah mudah. Menurutnya, Harus ada konsep terstruktur dan sistematis agar bisa masuk kedalam instrumen kelembagaan.

Baca: Ancaman Komunisme dan Radikalisme Harus Diantisipasi

"Salah satunya melalui pendidikan. Dan ini tidaklah instan. Kontra ideologi perlu kerja keras. Dan yang paling efektif yakni  melalui pendidikan disemua level. Upaya itu untuk mengurangi dampak derasnya paham radikal, terutama dimulai dari bibit yang ada dikampus," tandasnya. 



(RRN)